Tampilkan postingan dengan label Ekonomi Mikro. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ekonomi Mikro. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 Januari 2011

KESEIMBANGAN EKONOMI MIKRO - MAKRO

Bagaimana Mengerti Sistem Perekonomian Bak Mandi dan Ancaman Bubbled Economy



Cara bekerja sistem perekonomian di satu negara dapat digambarkan dengan menggunakan konsep BAK MANDI. Konsep ini menggunakan analogi seorang Bapak atau Ibu rumahtangga dalam memanaje kebutuhan air mandi untuk para anggota rumah-tangganya. Dengan jumlah anggota rumahtangga yang relatif besar yang biasa dijumpai pada kehidupan rumahtangga masyarakat di Indonesia, setiap rumahtinggal selalu diperlengkapi dengan bak mandi dengan kapasitas daya tampung air yang memadai. Sistem instalasi air di rumah tersebut kemudian dibangun, dengan menggunakan tangki penampungan di luar kamar mandi yang menggunakan jetpump atau dengan sistem penimbaan dari sumur terdekat dari lokasi bak mandi tersebut.
Pimpinan rumah tangga akan berusaha memelihara posisi ketinggian air di bak mandi agar mencukupi kebutuhan para pemakai. Dia akan selalu mengawasi jangan sampai air yang masuk ke dalam bak mandi meluap sehingga tidak bermanfaat. Demikian juga jangan sampai air tersebut kualitasnya menjadi kurang baik dan keruh yang dapat merusak kesehatan para pemakai. Pada saat terjadi gangguan listrik atau kerusakan dari sumber air minum di rumah tersebut, maka dengan segera pimpinan rumahtangga melakukan tindakan untuk mencari air dari tetangga atau sumber air yang terdekat di sekitar rumah tinggal.
Perekonomian versi Bak Mandi
Skenario kegiatan penyediaan air mandi ini dapat kita aplikasikan seperti halnya bagaimana Pemerintah melakukan pengelolaan manajemen ekonominya untuk masyarakat di negaranya masing-masing. Sistem ini saya perkenalkan sebagai “sistem ekonomi bak mandi”, yang dikonsepkan pada DIAGRAM berikut ini [KLIK DUA KALI UNTUK GAMBAR YANG JELAS]
                                                    diagram-bak-mandi.jpg
Pemerintah sebagaimana halnya dengan pimpinan rumahtangga tersebut akan melakukan berbagai upaya untuk mempertahankan kondisi posisi keseimbangan sistem perekonomian sedemikian rupa dengan tujuan:
(a) Perekonomian tersebut dapat memenuhi kebutuhan para pelaku ekonominya
yang terdiri produsen, konsumen dan lembaga penunjang ekonomi pada setiap saat. Untuk melakukan ini perlu dipelihara pemupukan cadangan (stock) kebutuhan pangan, listrik, bahan bakar minyak dan devisa negara dalam jumlah yang cukup.
(b) Pemerintah perlu membangun sistem perekonomian dalam bentuk sistem
kelembagaan ekonomi, sistem perundang-undangan dan peraturan kebijakannya, sistem pengelolaan manajemen pemerintahan, perumusan kebijakan ekonomi, berikut sistem distribusi dan pengembangan infrastruktur publik yang diperlukan, meliputi antara lain jaringan jalan, pelabuhan dan lapangan terbang, sistem telekomunikasi dan sebagainya.
(c) Pemerintah akan memonitor agar supaya terjadi arah perkembangan dan
pertumbuhan ekonomi dari posisi Yo mencapai posisi Y t+1.
Proses pemupukan cadangan atau capital stock dilakukan Pemerintah dengan melakukan perencanaan ekonomi makro sedemikian rupa dengan pertama kali menetapkan target- target pembangunan di sektor riil, fiskal dan moneter. Target tersebut dirumuskan dengan memperhatikan kemampuan sistem ekonomi, partisipasi para pelaku ekonomi, sumber pendanaan dan berbagai kebijakan ekonomi yang diperlukan.
Kemudian Pemerintah akan menggerakkan potensi permintaan agregat (agregate demand) di masyarakat agar dapat direalisasikan dalam bentuk produksi dan pemupukan cadangan logistik yang tersedia di pasar, minimal meliputi kebutuhan barang pangan, listrik, bahan bakar minyak dan kebutuhan dasar konsumen lainnya. Di sektor fiskal Pemerintah akan melakukan berbagai upaya penggalangan sumber dana dari dalam negeri terutama melalui kegiatan perpajakan (taxation) yang semakin meningkat, tanpa membuat lesu kegiatan produksi dan investasi. Sedangkan di sektor moneter Pemerintah akan memelihara kebutuhan jumlah uang beredar (money supply) berikut cadangan devisa yang diperlukan untuk membiayai kegiatan impor dan lalulintas pertukaran mata uang asing.
Mengelola Trigger Pertumbuhan Ekonomi
Pertumbuhan ekonomi ( dari Yo ke Y t+1) dapat didorong untuk berkembang jika terdapat peningkatan permintaan agregat (permintaan menyeluruh) dari para pelaku ekonomi dalam bentuk belanja barang dan jasa maupun pembelian bahan baku, mesin dan faktor-faktor produksi lainnya. Pada contoh kasus bak mandi, pertumbuhan permukaan bak mandi akan dapat didorong naik jika pada rumah tangga terdapat cukup banyak permintaan (agregat) akan air mandi dari seluruh anggota rumah tangga. Dan masing-masing anggota rumah tangga tentunya memiliki pola jumlah liter air mandi yang dimintanya setiap, hari, minggu, bulan atau tahun.
Permintaan agregat dalam perekonomian ini meliputi permintaan penggunaan sumber dana (money supply) yang tersedia di satu negara untuk tujuan memenuhi terlaksananya berbagai kegiatan utama dari para pelaku ekonomi utama, seperti:
(a) Pembelian barang kebutuhan pokok dan barang kebutuhan atau jasa lainnya oleh konsumen untuk digunakan sendiri di rumahtangga (Consumption atau C);
(b) Kegiatan investasi langsung untuk memproduksi barang dan memberikan pelayanan jasa oleh rumahtangga guna dijual di pasar (Household Investment atau Ihh);
(c) Kegiatan membelanjakan barang dan pengeluaran kegiatan investasi proyek-proyek Pemerintah oleh lembaga pemerintahan atau kontraktor yang ditunjuk (Government Investment atau Ig); 
(d) Kegiatan investasi langsung untuk memproduksi barang dan pelayanan jasa oleh perusahaan swasta, BUMN, PMDN dan PMA (Private Investment atau Ip);
(e) Kegiatan memproduksi barang untuk tujuan ekspor dan melakukan kegiatan jasa perdagangan luar negeri, ekspor dan impor (net export atau X-M).
Pada sistem perekonomian yang telah berjalan dengan baik biasanya mampu untuk membiayai pendanaan guna memenuhi kegiatan permintaan agregat tersebut melalui proses injection ke dalam sistem perekonomian (bak mandi). Proses pemasokan dana ini bersumber dari pendapatan pajak yang berhasil dihimpun oleh Pemerintah dan yang berasal dari dana pihak ketiga yang dimobilisasi oleh Lembaga Perbankan di dalam negeri. Sayangnya akibat kurang mampu dan disiplinnya masyarakat dalam membayar pajak, maka kekurangan (deficit) dalam pembiayaan ini di penuhi dengan injeksi dana kredit dari perbankan di luar negeri atau bahkan dengan pinjaman luar negeri (sebelah kiri atas dari diagram).
Seperti halnya terjadi pada rumah tangga, apabila sampai terjadi pimpinan rumahtangga mendapatkan sumber air dari tetangga sekitar rumah maka tentunya hal ini akan mengganggu kenyamanan mereka. Pada perekonomian nasional pinjaman luar negeri (dari negara tetangga) biasanya akan sangat berdampak negatif di kemudian hari. Apabila kegiatan ini tidak direncanakan dan dikelola dengan hati-hati dapat membawa beban hutang negara yang sekaligus akan mengurangi cadangan devisa negara.
Seperti diuraikan pada model perekonomian terbuka, Indonesia menganut faham kebijakan devisa bebas sejak pemerintahan Orde Baru tahun 1967. Pemerintah dalam hal ini tidak membatasi lalulintas devisa dari kegiatan investasi asing langsung (foreign direct investment) perusahaan PMA maupun hasil devisa ekspor agar dimasukkan kembali ke dalam sistem perekonomian. Jadi merujuk pada uraian bagan bak mandi di atas, disamping terdapat proses injeksi arus dana kedalam sistem perekonomian, sehari-hari dijumpai juga proses penyusutan (withdrawals) keluar sistem perekonomian.
Proses withdrawals ini terjadi jika ada orang Indonesia yang melakukan perjalanan ke luar negeri, atau pengiriman dana hasil keuntungan perusahaan PMA (repatriation profit) ke Kantor Pusat, proses pembayaran cicilan dan bunga dari kredit luar negeri, pengiriman dana untuk kebutuhan kegiatan pengadaan impor barang modal dan bahan baku industri, serta kegiatan lalulintas dana luarnegeri yang dilakukan Pemerintah.
Kebijakan Pemerintah untuk Menjaga Posisi Keseimbangan
Pada posisi keseimbangan (equilibrium condition), Pemerintah akan mengupayakan agar arus injections dana ke dalam sistem perekonomian dapat dipelihara sedemikian rupa sehingga memenuhi kebutuhan modal untuk merealisasikan Permintaan Agregat dari para pelaku ekonomi. Apabila hal ini berhasil dilakukan maka akan terjadi proses “Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi”: yaitu meningkatnya Agregate Demand (AD); yang kemudian akan mendorong pertumbuhan perekonomian atau Pendapatan Nasional (gGDP); sehingga memperluas kegiatan ekonomi dan lapangan kerja (employment) pada posisi tahun berikutnya (Y t+1). Proses berantai ini pada akhirnya dapat memperkuat posisi cadangan devisa dan persediaan barang jadi dan bahan baku di masyarakat.
Pemerintah dapat menjamin pencapaian kondisi ini dengan melakukan upaya upaya pengendalian perekonomian melalui kebijakan Pemerintah yang mencakup antara lain:
1. kebijakan sektor riil ( seperti dalam pemberlakuan Undang-Undang Penanaman Modal dan kebijakan pemberian insentif investasi dan bea masuk impor),
2. kebijakan sektor perbankan (seperti penetapan batas CAR= Capital Adequacy Ratio atau kebijakan penurunan bunga kredit),
3. kebijakan sektor moneter (seperti pengaturan jumlah uang beredar dan kebijakan tingkat bunga SBI),
4. kebijakan keuangan negara dan RAPBN (Rencana Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara), dan
5. kebijakan perdagangan internasional.
Penarikan (withdrawals) dana secara mendadak dan besar-besaran ke luar negeri akan mengakibatkan rentannya atau melemahnya kondisi perekonomian di suatu negara. Pemerintah dalam kaitan ini akan senantiasa berupaya agar withdrawals dana tersebut dapat dikembalikan ke dalam sistem perekonomian. Kebijakan ekonomi yang biasa dilakukan untuk menjaga jangan sampai terjadi proses withdrawals besar-besaran adalah memelihara iklim berusaha yang baik, kebijakan pajak yang mendukung kegiatan berusaha, membangun sistem perbankan yang dipercaya, memelihara sistem pengendalian kurs rupiah yang stabil dan mengeluarkan kebijakan di sektor riil lainnya yang mendukung kegiatan berusaha.
Hati-Hati Datangnya Gejala Bubbled Economy
Kondisi perekonomian akan menjadi berbahaya apabila terjadi situasi yang dinamakan “bubbled economy”. Situasi yang serupa ini akan dihadapi oleh anggota rumahtangga yang terpaksa menggunakan air bak mandi yang menjadi keruh dan berlumpur pada musim kering, sehingga merusak kualitas air mandi yang dapat mengakibatkan mundurnya tingkat kesehatan anggota rumah tangga.
Proses terjadinya “bubled economy” memakan waktu beberapa tahun secara perlahan-lahan, melalui penambahan jumlah uang beredar dan kredit perbankan yang tidak diikuti oleh peningkatan kegiatan investasi langsung (PMDN atau PMA) dan kegiatan produksi di sektor riil. Perekonomian Indonesia pernah mengalami ancaman krisis ekonomi akibat “bubbled economy” pada tahun 1992, pada saat perbankan nasional kita menyalurkan kredit ke sektor perumahan dan konstruksi (property) secara besar-besaran. Penyaluran kredit ini ternyata tidak sepenuhnya diikuti dengan kegiatan pembangunan proyek-proyek property dengan cepat sehingga jumlah uang yang beredar di masyarakat melebihi kebutuhan.
Contoh lainnya adalah jika terjadi penjualan saham dari para Perusahaan Emiten di pasar modal yang sebagian dana yang diperolehnya digunakan untuk tujuan di luar kegiatan produksi di sektor riil. Apalagi jika sebagian dari dana yang tak terpakai tersebut dilarikan ke luar sistem perekonomian ditanam atau di tabung di perbankan di luar negeri. Proses “bubled ekonomi” dapat juga terjadi jika terdapat kenaikan indeks saham secara dahsyad yang berasal dari masuknya dana portofolio luar negeri, tanpa diikuti oleh kenaikan kapasitas produksi dari perusahaan emiten yang ada di bursa.
Apapun bentuk manifestasi pencetus terjadinya bubled economy, dampak negatif yang dihasilkan adalah meningkatnya ancaman kenaikan tingkat inflasi dan pelemahan nilai mata uang rupiah. Kedua ancaman terakhir ini merupakan kejadian yang sangat tidak diinginkan oleh para pelaku ekonomi, karena dapat mengurangi kesejahteraan maupun margin laba usaha mereka di kemudian hari.
Perekonomian Indonesia pada saat ini memiliki ciri-ciri menuju terbentuknya “bubled economy”. Peningkatan indeks harga saham di bursa yang melewati batas psikologis 2000 dalam satu bulan terakhir ini lebih banyak disebabkan oleh derasnya aliran masuk dana portofolio jangka pendek, yang tujuannya sebagian besar untuk mencari keuntungan sesaat. Masih diragukan adanya niat baik para investor global tersebut untuk mengkonversikan penyertaan sahamnya di pasar modal tersebut guna mendapatkan returns jangka panjang dari kegiatan produksi para produsen (emitent) yang sahamnya diperjual belikan di bursa Bursa Efek Jakarta. Arus dana global yang masuk (injection) ke sistem perekonomian kita ini , kemudian terpaksa diredam oleh Bank Indonesia dengan segera mengeluarkan kertas berharga (obligasi) dengan bunga yang menarik, agar perekonomian kita tidak kebanjiran uang beredar. Hal ini dilakukan oleh bank sentral kita untuk meredam ancaman inflasi.
Akibat operasi pasar seperti ini sudah barang tentu nilai tukar Indonesia menjadi relatif menjadi kuat karena stok cadangan devisa bertambah. Tetapi perlu dicatat bahwa peningkatan devisa ini sifatnya hanya semu dan sementara. Masih dinantikan dalam beberapa bulan ini kemampuan pelaku ekonomi domestik dan para pengusaha di sektor industri untuk menambah kapasitas produksi nasional, melakukan kerjasama operasi dengan PMA dan akhirnya peningkatan jumlah lapangan pekerjaan. Kita juga berharap tidak terjadi goncangan bursa di bursa China atau membaiknya suku bunga di negara maju— dimana jika hal ini terjadi maka indeks BEJ akan mengalami koreksi dan akan turun dengan sangat tajam (crash), termasuk melemahnya kembali nilai tukar rupiah. Moga-moga dugaan ini semua tidak akan terjadi.
(copyright@aditiawanchandra)

Kamis, 06 Januari 2011

PENGANTAR EKONOMI - BIAYA DAN PENDAPATAN

Biaya (Cost)
Biaya adalah semua pengorbanan yang perlu dilakukan untuk suatu proses produksi, yang dinyatakan dengan satuan uang menurut harga pasar yang berlaku, baik yang sudah terjadi maupun yang akan terjadi.
Obyek Biaya (Cost Object) adalah unit atau aktivitas dimana biaya diakumulasikan dan diukur. Unit atau aktivitas itu dapat berupa: produk, order, departemen, divisi, proyek.
Macam-macam Biaya (cost)
Biaya Pabrikasi :
  • Biaya Langsung : Biaya yang langsung dalam proses produksi suatu barang, bahan baku, dll.
  • Biaya Tidak Langsung : Biaya yang dikeluarkan untuk proses produksi
Biaya Non-pabrikasi :
  • Biaya Pemasaran yaitu biaya yang diperlukan untuk memperoleh pesanan dan menyediakan produk bagi pelanggan
  • Biaya Administrasi yaitu biaya yang dibutuhkan untuk mengelola organisasi dan menyediakan dukungan bagi karyawan
Departemen :
  • Common Cost (Biaya bersama) yaitu biaya yang berasal dari penggunaan fasilitas atau jasa oleh dua departemen atau lebih.
  • Joint Cost (Biaya Gabungan) yaitu biaya yang terjadi dalam proses produksi yang menghasilkan dua atau lebih produk jadi.
Periode Akuntansi :
  • Capital Expenditure (Belanja Modal) yaitu biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh manfaat lebih dari satu periode akuntansi.
  • Revenue Expenditure (Pengeluaran Pendapatan) yaitu biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh manfaat pada periode akuntansi yang sama dan dicatat sebagai beban.
Volume Produksi :
  • Biaya Tetap (FC) : Biaya yang tidak bertambah seiring dengan pertambahan produksi.
  • Biaya Variabel (VC) : Biaya yang bertambah seiring dengan pertambahan produksi.
Perhitungan Biaya :
1. Total Biaya (TC)
Keseluruhan biaya yang dikeluarkan dalam proses produksi sampai terciptanya barang.
Rumus : TC = TFC + TVC
2. Biaya Perunit (AC)
Biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi 1 unit barang jadi.
Rumus : AC = TC / Q
Q ialah Produk.
3. Biaya Marginal (MC)
Karena menambah 1 unit barang yang diproduksi
Biaya Eksplisit : Biaya yang kelihatan dalam proses produksi
Biaya Implisit : Biaya yang tidak kelihatan dalam proses produksi namun sebenarnya ada dan dikeluarkan.
Pendapatan (Revenue)
Selain biaya produksi, ada juga Pendapatan/Revenue yaitu berapa jumlah pendapatan yang akan diperoleh dengan memproduksi barang tersebut.
Macam perhitungan pendapatan :
  1. Total Revenue (TR) : total pendapatan yang akan diperoleh seorang produsen apabila memproduksi sejumlah unit barang tertentu.
  2. Kuantitas Barang (Q) : total jumlah barang yang diproduksi produsen
  3. Average Revenue (AR) : harga rata-rata unit barang AR=TR/Q
4. STRUKTUR PASAR
Struktur pasar adalah berbagai hal yang dapat mempengaruhi tingkah laku dan kinerja perusahaan dalam pasar, misalnya jumlah perusahaan dalam pasar, skala produksi, jenis produksi dan sebagainya.
Suatu struktur pasar dikatakan kompetitifjiak perusahaan tersebut tidak mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi pasar. Struktur pasar kompetitif berbeda dengan tingkah laku kompetitif, tingkah laku kompetitif adalah kondisi dimana perusahaan harus bersaing secara aktif dengan perusahaan lain.
Struktur pasar pada prinsipnya berarti mengelompokkan produsen/perusahaan yang terdapat didalam industri ke dalam beberapa bentuk dasar berdasarkan :
1. Jenis barang yang dihasilkan
2. Banyaknya/jumlah perusahaan dalam industri
3. Mudah tidaknya keluar masuk dalam industri
4. Peranan iklan dalam kegiatan industri (pasar).

PENGANTAR EKONOMI - PENDAPATAN

c. Elastisitas Pendapatan (The Income Elasticity of Demand)
Suatu perubahan (peningkatan/penurunan) daripada pendapatan konsumer akan berpengaruh terhadap permintaan berbagai barang, besarnya pengaruh perobahan tersebut diukur dengan apa yang disebut elastisitas pendapatan.
Elastisitas pendapatan ini dapat dihitung dengan membagi persentase perubahan jumlah barang yang diminta dengan persentase perobahan pendapatan, dengan rumus.
Jika Em = 1 (Unity), maka 1 % kenaikan dalam pendapatan akan menaikkan 1 % jumlah barang yang diminta;
Jika Em >1 (Elastis), maka orang akan membelanjakan bahagian yang lebih besar dari pendapatan terhadap barang.
Jika pendapatan naik; jika Em < 1 (in Elastis), maka orang akan membelanjakan bahagian pendapatan yang lebih kecil untuk suatu barang, bila pendapatannya naik.
Apabila yang terjadi adalah kenaikkan pendapatan yang berakibatkan naiknya jumlah barang yang diminta, maka tanda elastisitas tersebut adalah positif dan barang yang diminta sebut barang normal atau superior.
Bila kenaikan dalam pendapatan tersebut berakibat berkurangnya jumlah suatu barang yang diminta, maka tanda elastisitas terhadap barang tersebut adalah negatif dan barang ini disebut dengan barang inferior atau giffen.
2. Elastisitas Penawaran
Elastisitas Harga Penawaran (The Price Elasticity of Suply)
Sama hal dengan perhatian elastisitas harga pada permintaan, maka pengertian elastisitas harga pada penawaran, diartikan sebagai suatu alat untuk mengukur respon produsen terhadap perobahan harga, penghitungan elastisitas harga penawaran sama dengan penghitungan pada elastisitas harga permintaan, hanya saja perbedaan pengertian jumlah barang diminta diganti dengan jumlah barang yang ditawarkan.
Dimana :
Q         adalah jumlah barang yang ditawarkan;
P          adalah harga barang;
S          adalah delta atau perobahan.
Seperti terhadap koefisien elastisitas harga permintaan, koefisien penawaran tersebut juga dapat dibagi kedalam tiga  kategori, yaitu :
  • Elastis (Es > 1)
  • In Elastis (Es < 1),
  • Unity (Es = 1).
  • Elastis Sempurna (Es = ~ );
  • In Elastis Sempurna (Es = 0).
Elastisitas Penawaran Ditinjau dari Sudut Waktu
Elastisitas penawaran juga tergantung kepada waktu, apabila harga berobah, para ahli ekonomi membedakan tiga waktu/masa bagi produsen dalam rangka menyesuaikan jumlah barang yang akan ditawarkan dengan perobahan harga tersebut.
Secara umum, semakin lebih panjang waktu produsen untuk menyesuaikan diri terhadap perobahan harga, semakin besar elastisitas penawaran.
Adapun tiga waktu tersebut adalah :
  • Immediate Run / Momentary Period / Market Period
Suatu periode waktu yang sangat pendek, dimana jumlah barang yang terdapat di pasar tidak dapat dirubah, yaitu hanya sebanyak yang ada di pasar, kurva penawaran in elastis sempurna.
  • The short Run,
Adalah suatu periode waktu yang cukup panjang bagi suatu perusahaan untuk memproduksi barang, tetapi tidak cukup panjang untuk mengembangkan kapasitas atau masuk pasar bagi perusahaan baru, sehingga out put hanya dapat dikembangkan sebatas kapasitas yang ada, bentuk kurva penawaran Unity.
  • The Long Run
Adalah suatu periode waktu yang sangat panjang bagi perusahaan baru untuk masuk kedalam pasar dan bagi perusahaan lama untuk membuat perencanaan untuk pengembangan perusahaan yang lebih memungkinkan untuk menyesuaikan diri dengan perobahan harga, bentuk kurva penawarannya lebih elastis,
Cara Menghitung Elastisitas Permintaan
Secara garis besar ada dua cara dalam mengukur besaran elastisitas permintaan, yaitu :
-          Elastisitas Titik (Point elasticity)
Cara ini digunakan untuk mengukur elastisitas yang perubahan harga dan jumlah yang diminta relatif sangat kecil atau limit mendekati nol, hal ini dapat dibuktikan,
-          Elastisitas Busur (Art Elastisity)
Cara kedua ini digunakan untuk mengukur perubahan harga dan jumlah permintaan yang besar. Cara penghitungan ini terbagi dalam dua bentuk :
1. Elastisitas Jarak.
Suatu cara mengukur elastisitas yang besar, tetapi bersifat searah, seperti diukur dari titik A ke titik B tidak sama besar hasilnya bila diukur dari titik B ke titik A.
2. Elastisitas Jarak dengan Modifikasi / mid point;
Suatu cara dalam mengukur besaran elastisitas tanpa memperhatikan arah, apakah dimulai dari titik A ke titik B atau sebaliknya, dimana cara ini tidak akan ada perbedaan dari hasilnya, tujuan dari metode perhitungan ini adalah untuk mengatasi kelemahan pada cara pengukuran jarak (a).
Elastisitas dan Penerimaan
Elastisitas berhubungan dengan reaksi jumlah barang terhadap perubahan harga, pada suatu kurva permintaan atau penawaran tertentu.
Elastisitas perlu diketahui oleh penjual sebab; jika jumlah barang besar reaksinya terhadap perubahan harga, maka suatu penurunan harga akan menaikkan jumlah pengeluaran konsumen untuk barang tersebut, berarti juga menaikkan penghasilan.
Jika jumlah barang tidak ada atau kecil reaksinya terhadap perubahan harga, maka penurunan harga hanya akan menurunkan jumlah penghasilan yang diterima penjual dari penjualan barang tersebut.
Bagi penjual yang penting adalah hubungan antara perubahan harga, elastisitas dan jumlah penerimaan penjual, jika kuantitas dikalikan dengan harga per unit, maka akan menghasilkan jumlah penerimaan, karena total penerimaan dari penjualan dalam suatu pasar adalah sama dengan harga produk kali dengan harga barang yang dijual (TR = P x Q).
Koefisien dari elastisitas permintaan dapat dipakai untuk meramalkan apa yang akan terjadi terhadap total penerimaan dari penjualan; apa yang akan terjadi dengan total pengeluaran konsumen bila harga berobah.
Sepanjang kurva permintaan, Harga dan Quantitas barang akan selalu bergerak berlawanan arah, suatu penurunan harga (p) akan memberikan total penerimaan yang lebih rendah dan suatu kenaikkan kuantitas (Q) akan menaikkan total penerimaan (TR).
Apa yang sesungguhnya terjadi terhadap Total Penerimaan, tergantung kepada reaksi permintaan terhadap perobahan harga barang.
Pada permintaan yang elastis, maka penurunan harga mengakibatkan persentase kenaikkan kuantitas yang dijual melebihi persentase turunnya harga, sehingga akan menyebabkan kenaikkan jumlah penerimaan.
Pada permintaan yang in elastis, maka suatu penurunan harga akan memberikan kenaikkan kuantitas yang terjual relatif lebih kecil daripada penurunan harga, sehingga jumlah penerimaan penjual menjadi turun.
Pada permintaan yang unitari, maka persentase kenaikan kuantitas akan sama dengan persentase harga, dan jumlah penerimaan penjual akan tetap tidak berubah jika terjadi kenaikkan harga dan sebaliknya.
Oleh karena itu, seorang penjual yang akan merubah harga harus memperhatikan elastisitas permintaan setiap tingkat harga tersebut.
Jadi berobahnya total penerimaan (TR) dapat memberikan cara yang cepat, untuk meneliti apakah suatu titik berada pada titik elastis, in elastis dan unitari, dengan cara :
  • Bilamana P diturunkan dan TR menurun pula, maka permintaan adalah inelastis, atau jika P dan TR bergerak arah yang sama, maka Eh < 1;
  • Bilamana P diturunkan dan menyebabkan TR meningkat, maka permintaan adalah elastis, atau jika P dan TR bergerak berbeda arah, maka Eh > 1;
  • Bilamana P dinaikkan atau diturunkan, sedangkan TR sama saja, maka permintaan bersifat elastis kesatuan (unity) atau jika TR tidak berobah, ketika P berobah, maka Eh = 1.
Jadi ada dua cara untuk menentukan apakah permintaan tersebut adalah Elastis, In elastis atau Unity, yaitu cara :
  • Metode Perhitungan Koefisien Elastisitas harga dari permintaan yang diperoleh dari informasi P dan Q.
  • Observasi apa yang akan terjadi terhadap Total Penerimaan/Total Revanue (TR), apabila P berobah dan pengujian total penerimaan (Total Revanue Test), tapi cara kedua ini tidak memberikan suatu nilai koefisien.

PENGANTAR EKONOMI - PENAWARAN

B. Penawaran
Dalam rangka menjawab kebutuhan konsumen, pihak produsen menyediakan berbagai barang dan jasa. Barang dan jasa hasil produksi ini kemudian dijual kepada konsumen di pasar menurut tingkat harga tertentu. permintaan bersangkut paut dengan pembelian dan pemakainan sedangkan penawaran bersangkut paut dengan peneyediaan dan penjualan. Jadi penawaran adalah jumlah barang dan jasa yang tersedia untuk dijual pada berbagai tingkat harga dan situasi.
Hukum Penawaran
Hukum penawaran berbunyi: bila tingkat harga mengalami kenaikan maka jumlah barang yang ditawarkan akan naik, dan bila tingkat harga turun maka jumlah barang yang ditawarkan turun. Dalam hukum penawaran jumlah barang yang ditawarkan akan berbanding lurus dengan tingkat harga, di hukum penawaran hanya menunjukkan hubungan searah antara jumlah barang yang ditawarkan dengan tingkat harga.
Kurva Penawaran
Kurva penawaran adalah kurva yang menunjukkan hubungan berbagai jumlah barang dan jasa yang ditawarkan oleh produsen pada berbagai tingkat harga. Kurva ini akan menghubungkan titik-titik koordinat pada sumbu harga (sumbu Y) dengan sumbu jumlah barang (sumbu X).
Apabila pengaruh harga barang itu sendiri terhadap jumlah barang yang ditawarkan ditunjukkan oleh gerakan naik-turun di sepanjang kurve penawaran, maka untuk mempengaruhi harga barang-barang lain, biaya produksi , tujuan-tujuan perusahaan , dan teknologi ditunjukkan oleh pergeseran kurve penawaran ke kiri atau ke kanan. -[ pergeseran ke kiri menunjukkan pengurangan penawaran (decrease in supply) manakala pergeseran ke kanan menunjukkan peningkatan penawaran (increase in supply).
Faktor-faktor yang mempengaruhi penawaran
Faktor-faktor yang mempengaruhi penawaran, diantaranya:
1. Biaya produksi
Bahan baku yang mahal akan mengakibatkan tingginya biaya produksi dan menyebabkan produsen menawarkan barang dalam jumlah terbatas untuk menghindari kerugian karena takut tidak laku.
2. Teknologi
Adanya kemajuan teknologi akan menyebabkan pengurangan terhadap biaya produksi dan produsen dapat menawarkan barang dalam jumlah yang lebih besar lagi.
3. Harga barang pelengkap dan pengganti
Apabila harga barang pengganti mengalami kenaikan maka produsen akan memproduksi lebih banyak lagi karena berasumsi konsumen akan beralih ke barang pengganti karena harganya lebih murah.
4. Pajak
Semakin tinggi tarif pajak yang dikenakan akan berakibat naiknya harga barang dan jasa yang akan membawa dampak pada rendahnya permintaan konsumen dan berkurangnya jumlah barang yang ditawarkan.
5. Perkiraan harga barang di masa datang
Apabila kondisi pendapatan masyarakat meningkat, biaya produksi berkurang dan tingkat harga barang dan jasa naik, maka produsen akan menambah jumlah barang dan jasa yang ditawarkan. Tetapi bila pendapatan masyarakat tetap, biaya produksi mengalami peningkatan, harga barang dan jasa naik, maka produsen cenderung mengurangi jumlah barang dan jasa yang ditawarkan atau beralih pada usaha lain.
6. Tujuan dari perusahaan
Bila perusahaan berorientasi untuk dapat menguasai pasar, maka dia harus mampu menekan harga terhadap barang dan jasa yang ditawarkan sehingga keuntungan yang diperoleh kecil. Bila orientasinya pada keuntungan maksimal maka perusahaan menetapkan harga yang tinggi terhadap barang dan jasa yang ditawarkannya.
Macam-Macam Penawaran
Apabila ditinjau dari jumlah barang yang ditawarkan, penawaran dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu penawaran perorangan dan penawaran kolektif.
  1. a. Penawaran Individu
Penawaran individu adalah jumlah barang yang akan dijual oleh seorang penjual.
b. Penawaran Kolektif
Penawaran kolektif disebut juga penawaran pasar. Penawaran kolektif adalah keseluruhan jumlah suatu barang yang ditawarkan oleh penjual di pasar. Penawaran pasar merupakan penjumlahan dari keseluruhan penawaran perorangan.
2. ELASTISITAS DALAM PEREKONOMIAN
Pengertian Elastisitas
Salah satu pokok bahasan yang palin penting dari aplikasi ekonomi adalah konsep elastisitas. Pemahaman dari elastisitas harga dari permitaan Dan penawaran membantu para ahli ekonomi untuk menjawab suatu pertanyaan, yakni apa yang akan terjadi terhadap permintaan Dan penawaran,  jika ada perubahan harga? Apa yang terjadi pada “keseimbangan harga” bila faktor-faktor yang mempengaruhi kurva demand Dan kurva supply berubah? Dan berapa besar pengaruhnya?
Untuk menjawab ini pakailah konsep elastisitas.
Secara umum, elastisitas adalah suatu pengertian yang menggambarkan derajat kepekaan/respon dari julah barang yang diminta/ ditawarkan akibat perubahan faktor yang mempengaruhinya.
1. Elastisitas Permintaan
Elastisitas harga permintaana dalah suatu alat/konsep yang digunakan untuk mengukur derajat kepekaan/ respon perubahan jumlah/ kualitas barang yang dibeli sebagai akibat perubahan faktor yang mempengaruhi.
Dalam hal ini pada dasrnya ada tiga variabel utama yang mempengaruhi, maka dikenal tiga elastisitas permintaan, yahitu :
  1. elastisitas harga permintaan
  2. elastisitas silang
  3. elastisitas pendapatan
a. Elastisitas Harga Permintaan (the price elasticity of demand)
Elastisitas harga permintaan adalah derajat kepekaan/ respon jumlah permintaan akibat perubahan harga barang tersebut atau dengan kata lain merupakan perbadingan daripada persentasi perubahan jumlah barang yang diminta dengan prosentase perubahan pada harga di pasar, sesuai dengan hukum permintaan, dimana jika harga naik, maka kuantitas barang turun Dan sebaliknya.
Sedangkan tanda elastisitas selalu negatif, karena sifat hubungan yang berlawanan tadi, maka disepakati bahwa elastisitas harga ini benar indeksnya/koefisiennya dapat kurang dair, dama dengan lebih besar dari satu Dan merupakan angka mutlak (absolute), sehingga permintaannya dapat dikatakan :
  1. Tidak elastisitas (in elastic)
  2. Unitari (unity) dan
  3. Elastis (elastic)
Dengan bentuk rumus umum sebagai berikut :
Dimana :
Eh = elastisitas harga permintaan
Q  =  Jumlah barang yang diminta
P   =  harga barang tersebut
Δ  = delta atau tanda perubahan.
Hasil akhir dari elastisitas tersebut memberikan 3 kategori :
  1. Apabila perubahan harga (ΔP) mengakibatkan perubahan yang lebih besar dari jumlah barnag yang diminta (Δ Q), sisebut dengan elastisitas yang elastis (elastic), dimana besar koefisiennya adalah besar dari satu (Eh.1). Nemtuk kurva permintaannya lebih landai. [ % ΔP < % Δ Q].
  2. Apabila persentase perubahan harga (% ΔP) sama besarnya dengan persentase perubahan jumlah barang yang diminta (% Δ Q), disebut dengan elastisitas yang unity (unitari), dimana besar koefisiennnya adalah sama dengan satu (eh=1), bentuk kurva permintaannya membentuk sudut 45 derajat dari titik asal [% ΔP = % Δ Q].
  3. Apabila persentase perubahan harga (% ΔP) mengakibatkan perubahan kenaikan jumlah barang yang diminta (% Δ Q) yang lebih kecil,disebut dengan elastisitas yang in elastic dimana besar keofisiennya lebih kecil dari satu (Eh<1). Bentuk kurva permintaannya lebih vuram[ % ΔP > % Δ Q].
Pembagian kedalam tiga kategori tersebut disebabkan karena perbedaan total penerimaan (Total Renenue)nya sebagai akibat perubahan harga masing-masing kategori.
Pada suatu kurva permintaan akan terdapat ketiga keadan tersebut, tergantung dititik mana mengjkurnya. Pada harga tinggi, elastisitasnya lebih besar dari satu atau elastis, pada harga yang rendah elastisitasnya kurang dari satu atau tidak elastis (in elastic), sedangkan titik tengah dari kurva permintaan mempunya elastisitas sama dengan satu atau unity (unitari),
Disamping tiga bentuk elastisitasharga permintaan diatas, ada dua lagi elastisitas harga permintaan, yaitu :
  • Permintaan yang elastis sempurna (perfectly Elastic), ini merupakan tingkat yang paling tinggi dari kemungkinan elastisitas, dimana respon yang paling besar dari jumlahbarang yang diminta terhadap harga, bentuk kurva permintaannya merupakan garis horizontal dengan sempurna sejajar dengan sumbu gabris horizontal dengan sempurna sejajar dengan sumbu datar, besar elastisitasnya tidak berhingga (Eh =ς) pada kondisi ini berapapun jumlah permintaan, harga tidak berubah atau pada tingkat harga yang jumlah permintaan dapat lebih banyak.
  • Kurva permintaan yang tidak elastis sempurna (perfectly inelastic), ini merupakan tingkat paling rendah dari elastisitas, dimana respon yang jumlah permintaan barang terhadap perubahan harga adalah sangat kecil, bentuk kurva permintaannya vertikal dengan sempurna sejajar dengan sumbu tegak, besar koefisien elastisitasnya adalah nol (Eh = 0), artinya bagaimanapun harga tinggi, konsumen tidak akan mengurangi jumlah permintaannya.
Faktor Yang Mempengaruhi Elastisitas Harga Permintaan
Elastisitas harga permintaan mengukur tingkat reaksi konsumer terhadap perubahan harga. Elastisitas ini dapat menceritakan pada produsen apa yang terjadi terhadap penerimaan penjualan mereka, jika mereka merubah strategi harga, apakah kenaikan/menurunkan jumlah barang yang akan dijualnya.
Ada beberapa faktor yang menentukan elastisitas harga permintaan :
  1. Tersedia atau tidaknya barang pengganti di pasar
  2. Jumlah pengguna/tingkat kebutuhan dari barang tersebut
  3. Jenis barang dan pola preferensi konsumen
  4. Periode waktu yang tersedia untuk menyesuaikan terhadap perubahan harga/periode waktu penggunaan barang tersebut.
  5. Kemampuan relatif anggaran untuk mengimpor barang
Elastisitas akan besar bilamana :
  1. terdapat banyak barang subsitusi yang baik
  2. harga relatif tinggi
  3. ada banyak kemungkinan-kemungkinan penggunaan barang lain
Elastisitas umumnya akan kecil, bilamana :
  1. benda tersebut digunakan dengan kombinasi benda lain
  2. barang yang bersangkutan terdapat dalam jumlah banyak, dan dengan harga-harga yang rendah.
  3. Untuk barang tersebut tidak terdapat barang-barang substitusi yang baik, Dan benda tersebut sangat dibutuhkan.
b. Elastisitas Silang (The Cross Price Elasticity of demand)
Permintaan konsumen terhadap suatu barang tidak hanya tergantung pada harga barang tersebut. Tetapi juga pada preferensi konsumen, harga barang subsitusi dan komplementer Dan juga pendapatan.
Para ahli ekonomi mencoba mengukur respon/reaksi permintaan terhadap harga yang berhubungan dengan barang tersebut, disebut dengan elastisitas silang (Cross Price Elasticity of demand)
Perubahan harga suatu barang akan mengakibatkan pergeseran permintaan kepada produk lain, maka elastisitas silang (Exy) adalah merupakan persentase perubahan permintaan dari barang X dibagi dengan persentase perubahan harga dari barang Y
Apabila hubungan kedua barang tersebut (X dan Y) bersifat komplementer (pelengkap) terhadap barang lain itu, maka tanda elastisitas silangnya adalah negatif, misalnya  kenaikan harga tinta akan mengakibatkan penurunan permintaan terhadap pena.
Apabila barang lain tersebut bersifat substitusi (pengganti) maka tanda elastisitas silangnya adalah positif, misalnya kenaikan harga daging ayam akan mengakibatkan kenaikan jumlah permintaan terhadap daging sapi Dan sebaliknya.
Bentuk umum dari Elastisitas silang adalah :
Perlu dicatat bahwa indeks/koefisien elastisitas tidak sama dengan lereng dari kurva atau slope dari kurva permintaan. Bila elastisitas tersebut no (0) berarti tidak ada hubungan antara suatu barang dengan barang lain.