Tampilkan postingan dengan label Manajemen Pendidikan-class. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Manajemen Pendidikan-class. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 November 2010

MANAJEMEN KELAS


Fungsi Manajemen Kelas

31102009
A. Pengertian Manajemen Kelas
Diketahui bahwa setiap organisasi memiliki aktivitas-aktivitas pekerjaan tertentu dalam rangka mencapai tujuan organisasi tersebut dan salah satu aktivitas tersebut adalah manajemen.
Dalam dunia pendidikan manajemen kelas itu dapat diartikan sebagai aktivitas proses belajar mengajar yang memadukan sumber-sumber pendidikan agar terpusat dalam usaha mencapai tujuan pendidikan yang telah ditentukan sebelumnya.[1]
Suatu pandangan yang lebih bersifat umum dari pada pandangan di atas, dinyatakan bahwa manajemen kelas ialah proses mengintegrasikan sumber-sumber daya manusia (pelayan pendidikan) yang saling berhubungan serta menjadi sistem total untuk menyelesaikan suatu tujuan.[2]
Dari uraian di atas yang dimaksud dengan sumber pendidikan di sini ialah mencakup orang-orang, alat-alat media, bahan-bahan, uang dan sarana semuanya itu akan diarahkan dan dikoordinasi agar terpusat dalam rangka menyelesaikan tujuan bersama.
Sementara M. Manulang, mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan manajemen adalah:
Manajemen adalah seni dalam ilmu perencanaan, pengorgansiasian, penyusunan, pergerakan dan pengawasan sumber daya manusia untuk mencapai tujuan yang sudah ditetapkan.[3]
Dalam pendapat yang sama Terry seperti dikutip Djati S., juga mengatakan bahwa manajemen adalah soal proses tertentu yang terdiri dari perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan penggunaan setiap ilmu dan seni bersama-sama dan selanjutnya menyelesaikan tugas untuk mencapai tujuan.[4]
Ada sebahagian pendapat yang menyatakan bahwa kata pengelolaan juga sangat identik dengan kata manajemen. Hal tersebut diakibatkan oleh derasnya penambahan kata pungut ke dalam bahasa Indonesia. Olehnya itu penyusun sengaja menguraikannya.
Menurut Drs. Winarno Hamiseno, pengelolaan kelas adalah suatu tindakan yang dimulai dari penyusun data, merencana, mengorganisasikan, melaksanakan sampai dengan pengawasan dan penilaian.[5]
Namun demikian, manajemen kelas ialah segala usaha yang diarahkan untuk mewujudkan suasana belajar mengajar yang efektif dan        menguntungkan serta dapat memotivasi siswa untuk belajar dengan baik sesuai kemampuan.[6]
Dari beberapa uraian pengertian di atas telah menunjukkan bahwa betapa pentingnya kedudukan manajemen kelas dalam dunia pendidikan, khususnya dalam proses belajar mengajar, utamanya untuk meningkatkan mutu pendidikan dalam pencapaian tujuan yang diinginkan.
B. Tujuan Manajemen Kelas
Masalah tujuan merupakan masalah yang sangat fundamental dalam setiap proses aktivitas tertentu, khususnya di bidang pendidikan. Sebab, dari tujuan itulah sesuatu itu akan dapat menentukan corak dan ke arah mana organisasi akan dibawa.
Kaitannya dengan hal di atas, dapat dipahami bahwa masalah manajemen adalah masalah yang sangat penting dalam proses aktivitas. Bahkan tidak hanya sekedar penting saja, tetapi masalah manajemen itu sama sekali tidak dapat dipisahkan dari kehidupan. Sehingga tidak heran jika ditemukan masing-masing corak manajemen yang mempunyai tujuan yang berbeda dalam mencapai hasil yang diinginkan. Kaitannya dengan masalah tujuan di atas penyusun akan mengemukakan sebuah pendapat mengenai pentingnya tujuan, seperti yang dikatakan oleh Allan C. Orriesstein, Daniel V. Levinne, mengatakan dalam bukunya An Introduction to the Foundations of Educations, tentang arti sebuah tujuan dikatakannya:
“Aims are important guides in educations, although they cannot be directly or evaluated; they are statements that cannot a desired and valued competency, a theme or concern that applied to education in general”.[7]
Artinya:
Tujuan adalah petunjuk yang penting dalam pendidikan walaupun mereka secara langsung tidak dapat diamati dan dievaluasi; mereka membuat pernyataan yang mengandung keinginan dan kompetensi, tema atau soal tersebut merupakan pemahaman penerapan di dalam pendidikan secara umum.[8]
Mengenai tujuan manajemen, sebenarnya sangat sulit untuk menentukan penjelasan yang pasti terhadap satu permasalahan tujuan. Oleh karena, hal itu disebabkan banyaknya tujuan yang dikemukakan oleh masing-masing manajemen/organisasi, serta semakin meluasnya makna yang terkandung di dalamnya, kendatipun demikian penyusun mencoba mengemukakan beberapa pendapat tentang tujuan manajemen. Menurut Shrode dan Voich tujuan utama manajemen adalah produktivitas dan kepuasan.[9]
Jika dipahami maksud dari pengertian di atas, bahwa tujuan manajemen itu tidak bersifat tunggal bahkan jamak atau rangkap, seperti dalam peningkatan mutu pendidikan/lulusannya, keuntungan/profit yang tinggi, dan pemenuhan kesempatan kerja, serta pembangunan daerah/nasional maupun tanggung jawab sosial.
Sementara Drs. H. Malayu S.P. Hasibuan menjelaskan bahwa antara tujuan dan sasaran mempunyai makna yang berbeda. Tujuan maknanya hasil yang umum (generalis), sedangkan sasaran berarti hasil khusus (spesialis). Mengenai tujuan manajemen dikatakannya adalah sesuatu yang ingin dicapai selalu ditetapkan dalam suatu rencana (plan), karena itu hendaknya ditetapkan “jelas, realistis, dan cukup menantang” untuk diperjuangkan berdasarkan pada potensi yang dimiliki.[10]
Lebih jauh lagi Drs. H. Malayu S.P. Hasibuan, menjelaskan tujuan manajemen yang dilihat dari berbagai sudut pandang, di antaranya adalah:
  1. Menurut tipe-tipenya tujuan dibagi atas :
    1. Profit objectives, bertujuan untuk mendapatkan laba bagi pemiliknya
    2. Service objectives, bertujuan untuk memberikan pelayanan yang baik bagi konsumen dengan mempertinggi nilai barang dan jasa yang ditawarkan kepada konsumen.
    3. Social objectives, bertujuan agar para karyawan secara individual economic social psychological mendapat kepuasan di bidang pekerjaannya dalam perusahaan
  1. Menurut prioritasnya, tujuan dibagi atas:
    1. Tujuan primer
    2. Tujuan sekunder
    3. Tujuan individual
    4. Tujuan sosial.[11]
  2. Menurut jangka waktunya, tujuan dibagi atas :
    1. Tujuan jangka panjang
    2. Tujuan jangka menengah
    3. Tujuan jangka pendek
  3. Menurut sifatnya, tujuan dibagi atas:
    1. Management objectives, tujuan dari segi efektif yang harus ditimbulkan oleh manajer.
    2. Managerial objectives, tujuan yang harus dicapai daya upaya atau kreativitas-kreativitas yang bersifat manajerial
    3. Administrative objectives, tujuan-tujuan yang pencapaiannya memerlukan administrasi.
    4. Economic objectives, tujuan-tujuan yang dimaksud memenuhi kebutuhan-kebutuhan dan memerlukan efisiensi untuk pencapaiannya.
    5. Social objectives, tujuan suatu tanggung jawab, terutama tanggung jawab moral.
    6. Technical objectives, tujuan berupa detail teknis, detail kerja dan detail karya.[12]
  4. Menurut tingkatannya tujuan dibagi atas:
    1. Overall enterprise objectives, adalah tujuan semesta (generalis) yang harus dicapai oleh badan usaha secara keseluruhan.
    2. Divisional Objectives, adalah tujuan-tujuan yang harus dicapai oleh setiap divisi.
    3. Departmental Objectives, adalah tujuan-tujuan yang harus dicapai oleh masing-masing bagian
    4. Sectional Objectives, adalah tujuan-tujuan yang harus dicapai oleh setiap urusan.
    5. Group objectives, adalah tujuan-tujuan yang harus dicapai oleh setiap kelompok urusan
    6. Individual objectives, adalah tujuan-tujuan yang harus dicapai oleh masing-masing individu.
  1. Menurut bidangnya, tujuan dibagi atas:
    1. Top level objectives, adalah tujuan-tujuan umum, menyeluruh dan menyangkut berbagai bidang sekaligus.
    2. Finance objectives, adalah tujuan-tujuan tentang modal
    3. Productions objectives, adalah tujuan-tujuan produksi.
    4. Marketing objectives, adalah tujuan-tujuan mengenai pemasaran barang dan jasa-jasa.
    5. Office objectives, adalah tujuan-tujuan mengenai ketatausahaan dan administrasinya.
  2. Menurut motifnya, tujuan adalah
    1. Public objectives
    2. Organizational objectives
    3. Personal objectives.[13]
Dengan demikian dapatlah disimpulkan bahwa tujuan manajemen kelas adalah merupakan hal terjadinya proses manajemen dan aktivitas kerja, tujuan beraneka macam tetapi harus ditetapkan secara jelas, realistis dan cukup menantang berdasarkan analisis data, informasi dan pemilihan dari alternatif-alternatif yang ada.
C. Prinsip-prinsip Manajemen Kelas
Diketahui bahwa manajemen sebagai suatu kegiatan untuk mencapai tujuan menjadi hal yang wajib untuk diketahui oleh mereka yang terlibat di dalam kepanitiaan, organisasi, atau suatu lembaga pendidikan. Prinsip-prinsip manajemen merupakan sebuah ilmu dasar manajemen yang perlu dikuasai oleh pemimpin (pendidik) sebagai landasan untuk kepentingan pelaksanaan manajemen selanjutnya.
Dalam bukunya DR. Nanang Fattah yang berjudul Landasan Manajemen Pendidikan,dijelaskan bahwa pada dasarnya prinsip-prinsip manajemen itu dibagi dalam tiga hal yaitu:
  1. Prinsip Manajemen Berdasarkan Sasaran (MBS)
MBS merupakan teknik manajemen yang membantu memperjelas dan menjabarkan tahapan tujuan organisasi. Dengan MBS dilakukan proses penentuan tujuan bersama antara atasan dan bawahan. Manajer tingkat atas bersama-sama dengan manajer tingkat bawah bersama-sama menentukan tujuan, unit kerja agar serasi dengan tujuan organisasi.
Diketahui bahwa tujuan organisasi adalah segala sesuatu yang harus dicapai organisasi dalam melaksanakan misinya. Sehingga pada setiap tingkat organisasi diperlukan komitmen para manajer pada pencapaian sasaran perseorangan dan sasaran organisasi secara efektif. Namun demikian, MBS mempunyai siklus atau proses, yang dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu : 1. Identifikasi tujuan, tanggung jawab dan tugas-tugas, 2. Pengembangan standar prestasi dan 3. Pengukuran dan penilaian prestasi.[14]
MBS merupakan sistem yang mengandung unsur-unsur dan MBS akan efektif jika terdapat unsur-unsur sebagai berikut:
  1. Komitmen pada program
  2. Penentuan sasaran pada tingkat puncak
  3. Sasaran individu, maksudnya penentuan tujuan setia tingkat untuk membantu para karyawan
  4. Peran serta aktif semua tingkatan manajer
  5. Otonomi dalam pelaksanaan rencana.[15]
  6. Prinsip Manajemen Berdasarkan Orang
Dapat dipahami bahwa manajemen berdasarkan orang merupakan suatu konsep manajemen modern yang mengkaji keterkaitan dimensi perilaku, komponen sistem dalam kaitannya dengan perubahan dan pengembangan organisasi/ lembaga pendidikan. Tuntutan perubahan dan pengembangan yang muncul sebagai akibat tuntutan lingkungan internal dan eksternal pendidikan, membawa implikasi terhadap perubahan perilaku dan kelompok dan wadahnya.
Manajer (pendidik) pada umumnya bekerja pada lingkungan yang selalu berubah. Perubahan lingkungan yang bermacam-macam, menurut organisasi selalu menyesuaikan diri. Salah satu upaya yang paling penting adalah dengan mengembangkan sumber daya manusia. Namun, pengembangan SDM harus diimbangi dengan pengembangan organisasi. Manajer juga sangat dipengaruhi oleh unsur-unsur kelembagaan yang memelihara mekanisme keseimbangan antara nilai-nilai kepegawaian dan lingkungan luar. Singkatnya kebudayaan dan lembaga-lembaga menunjukkan dan mempengaruhi cara hidup, dan cara menyelenggarakan sebuah manajemen.[16]
Oleh karena itu, tuntutan akan perubahan merupakan sesuatu yang tidak dapat terelakkan, sebab perubahan perilaku dan perubahan organisasi merupakan bagian esensial dari manajemen inovasi sebagai dampak globalisasi bidang kehidupan, dan ini merupakan salah satu dari prinsip-prinsip manajemen yang harus diketahui di dalam melaksanakan proses aktivitas pendidikan.
  1. Prinsip Manajemen Berdasarkan Informasi
Diketahui perencanaan pengorganisasian, kepemimpinan dan pengawasan merupakan kegiatan manajerial yang pada hakekatnya merupakan proses pengambilan keputusan, dan semua kegiatan tersebut membutuhkan suatu informasi.
Informasi yang dibutuhkan oleh manajer disediakan oleh suatu sistem informasi manajemen, yaitu suatu sistem yang menyediakan informasi untuk manajer secara teratur.[17]
Sistem informasi manajemen sebagai sebuah sistem manusia atau mesin yang terpadu untuk menyajikan informasi guna untuk mendukung fungsi operasi, manajemen, dan pengambilan keputusan dalam sebuah organisasi. Sistem ini sendiri ada karena berbagai tekanan untuk mengembangkan informasi seirama dengan perkembangan lingkungan. Dengan kata lain, sistem manajemen informasi merupakan keseluruhan jaringan informasi yang ditujukan kepada pembuatan keterangan-keterangan bagi manajer yang berfungsi untuk pengambilan keputusan.
Dengan demikian, maka jelaslah bahwa prinsip-prinsip manajemen kelas yang dimaksudkan adalah mengarah kepada tercapainya suatu bentuk manajemen dalam wadah organisasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dengan tidak melepaskan kaidah-kaidah tertentu, agar organisasi tersebut dapat berjalan di atas prinsip-prinsip manajemen yang ideal.

[1]Made Pidarta, Manajemen Pendidikan Indonesia (Cet. I; Jakarta: Bina Aksara, 1988),            h. 4.
[2]Ibid.
[3]M. Manulang, Dasar-dasar Manajemen Cet. XV; Jakarta: Ghalia Indonesia, 1996),            h. 15.
[4]Djati Julitriarsa, John Suprihanto, Manajemen Umum Sebuah Pengantar, Edisi I (Cet. III; Yogyakarta: BPFE, 1998), h. 3.
[5]Winarno Hamiseno, Pengelolaan Kelas dan Siswa (Cet. IV; Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1986), h. 8.
[6]Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Pengelolaan Kelas di Sekolah DasarJakarta: 1996), h. 1.
[7]Allan C. Ornstein, Daniel V. Levinne, An Introduction to the Foundations of Educations,Edisi III (Boston: Hougthon Mifflin Company, 1984), h. 446.
[8]Terjemahan penyusun.
[9]Nanang Fattah, Landasan Manajemen Pendidikan (Cet. V; Bandung: Remaja Rosdakarya, 2001), h. 15.
[10]Malayu S.P. Hasibuan, Manajemen Dasar, Pengertian dan Masalah (Cet. I; Jakarta: Bumi Aksara, 2001), h. 17.
[11]Ibid., h. 18.
[12]Malayu, S.P. Hasibuan, Ibid., h. 19.
[13]Ibid., h. 18-20.
[14]Nanang Fattah, Landasan Manajemen Pendidikan (Cet. V; Bandung: Remaja Rosdakarya, 2001), h. 33.
[15]Ibid., h. 34.
[16]George R. Terry, Prinsip-Prinsip Manajemen (Cet. VI; Jakarta: Sinar Grafika, 200), h. 23.
[17]Ibid., h. 45.
[18]Maman  Rachman, Manajemen Kelas (Departemen Pendidikan dan kebudayaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Proyek Pendidikan Guru Sekolah Dasar , 1998/1999), h. 20.

DICIPLINE

Stages of Discipline


You would never think of setting up a math or reading program in your building that treated every student exactly the same. You would not expect all students to use the same reader. You would not place an entire school in the same math book. If you did any of these things, your school board and your community would demand an immediate explanation. Yet, we set up discipline systems in our schools that treat all students exactly the same. In fact, everyone expects us to do just that!
Just as students function at different levels in reading and math, they also function at different levels, or stages, of discipline. It is possible to set up a consistent system for classroom discipline that will be appropriate for students functioning a t all stages and at the same time encourage them to work their way up to higher stages.
There are many experts telling us how to handle discipline problems in our classrooms. Yet these experts do not always agree. Thomas Gordon, creator of Teacher Effectiveness Training staunchly opposes Lee Canter’s Assertive Discipline concept. Yet, both have enjoyed a great deal of success all across America. Trying to decide who is right and who is wrong seems quite difficult. Instead, let us assume that both of them are right, that they just are not talking about the same students!
If we look at the work of Lawrence Kohlberg, we find the piece that will put this puzzle together. For many years Kohlberg studied stages of moral and ethical reasoning in youngsters from the United States, Taiwan, Mexico, Turkey, and Yucatan. One important fact that surfaced in his research is that everyone, regardless of culture, race, or sex, goes through these stages. Although the progression from stage to stage is the same, the rate varies from person to person. It is for this reason that we need to be prepared to address discipline in our classrooms at different levels. Our students are functioning at different stages on the road to self-discipline. Let us look at these stages and see how youngsters behave.
Stage 1: Recalcitrant Behavior
The Power Stage: Might Makes Right!
Students functioning at Stage 1, the lowest stage, are typically recalcitrant in their behavior. That is, they often refuse to follow directions. They are defiant and require a tremendous amount of our attention. Theirs is a heteronomous morality: they have few rules of their own, but out of fear of reprisal, may follow the rules of others. Most youngsters have progressed beyond this stage by age four or five, but a few older students still function at this level.
This is the power stage. What makes it work is the imbalance of power between the child and the person in authority. When the child is young, the imbalance of power between him and his parent is significant. If the child is never taught a higher stage, the imbalance of power diminishes as he grows up . The parent then tells us that she can no longer control her child. He will not mind. He challenges authority constantly.
Fortunately, very few of the students we see in our classrooms function at this stage. Those who do, follow rules as long as the imbalance of power tilts against them. Assertive teachers with a constant eye on these students can keep them in line. Turn your back on them, and they are out of control.
If these students want something, they usually just take it. They show very little concern for the feelings of others. They seek out extensions of power. Pencils, scissors, and rulers become weapons in their hands.
Schools that use The Honor Level System find that the students who function mainly at this level are chronically on Honor Level Four.

Stage 2: Self-Serving Behavior
The Reward/Punishment Stage: "What's in It for Me?"
Students functioning at Stage 2 are a little easier to handle in the classroom. They also represent only a small percent of the youngsters we teach. Kohlberg would classify them as having an individualistic morality. They can be very self-centered.

 
This is the reward and punishment stage. These students behave either because they will receive some sort of reward such as candy, free time, etc., or because they do not like what happens to them when they do not behave. Most children are moving beyond this stage by the time they are eight or nine years old. Older students who still function at this stage do best in classrooms with assertive teachers.
There is very little sense of self-discipline at this stage. Like the power stage children, these youngsters need constant supervision. They may behave quite well in your classroom and then be out of control in the halls on the way to their next class.

 
Because we expect so much more of our students, these children are often on Honor Level Three and Honor Level Four.
Stage 3: Interpersonal Discipline
The Mutual Interpersonal Stage: "How Can I Please You?"Students functioning at Stage 3 make up most of the youngsters in our middle and junior high schools. These kids have started to develop a sense of discipline. They behave because you ask them. This is themutual interpersonal stage. They care what others think about them, and they want you to like them.
These children need gentle reminders. You ask them to settle down and they do. Assertive discipline works with these students because they understand it, but they rarely need such a heavy handed approach to classroom discipline.
Quite often you find students in your classroom that are in transition from Stage 2 to Stage 3. Perhaps you will know of a student that gets into lots of trouble in other classrooms but not in yours. This child is just learning to trust others and build the interpersonal relationships that are more common with his classmates. You need to let him know that his good behavior is important to you not only in your classroom, but in others as well. Nurture this youngster and you will see quick progress. Be unnecessarily assertive and he will slip back to Stage 2.
These students are almost always on Honor Level One and Honor Level Two.

Stage 4: Self-Discipline
The Social Order Stage: "I Behave Because it is the Right Thing to Do."
Students functioning at Stage 4 rarely get into any trouble at all. They have a sense of right and wrong. Although many middle school and junior high school students will occasionally function at this level, only a few consistently do. These are the youngsters we enjoy working with so much. You can leave these kids alone with a project and come back 20 or 30 minutes later and find them still on task. They behave because, in their minds, it is the right thing to do.
This is the social order stage. These students are almost always onHonor Level One.
Even though they may never tell you, students who function at this level do not appreciate assertive discipline. They are bothered by the fact that other students force teachers to use so much class time dealing with discipline problems.
Although most of our students do not usually operate at this stage, they are near enough to it that they understand it. Cooperative Learning activities encourage students to function at this level. The teacher who sets up several groups within the classroom gives students a chance to practice working at this level while he waits close by, ready to step in when needed.

Working Through the Stages
Kohlberg describes additional stages of morality and ethical reasoning that go beyond what we discuss here, but they are not usually seen in school age children. In fact, many adults do not progress much further than these.
Keep in mind that all of us work our way through these stages in this order as we grow up. When you identify the stage at which a student is functioning, you can then help that youngster work to the next stage. It is a mistake to try and skip stages. Insisting that a Stage 1 student “straighten up and start acting right” (like a Stage 4 student) is not a reasonable expectation. It simply isn’t going to happen! Instead, set your goal on Stage 2 and you will be less frustrated. You may be pleasantly surprised when you start to notice improvement.
It is important to remember that for many reasons, any child is fully capable of regressing every now and then. When you really get to know your students and are used to them functioning at a stage, it is important to look for a reason when one of your students regresses. Problems with family members, friends, alcohol, or drugs may be behind a shift in behavior. It simply might be tiredness or the onset of illness. Whatever the cause, it is worth taking the time to talk with the student and see what’s going on.

Picking Up the Pieces
You may feel that you do not have the time to walk these kids from stage to stage. You may be concerned about covering the material in the book or getting to all the objectives, but what do you teach? Is it English? Math? Science? Such a response is the one others expect of us, but the real answer is: “I teach children.” When you get used to thinking of your job in that way, it is easier to find the time needed to help a youngster with behavior problems.
Learning self-discipline is just like learning anything else. Your students aren’t always going to get it right the first time. So, you find yourself “picking up the pieces.” You help them some more, and when you think they are ready you give it another try.
If you have a math student who is not quite ready to handle long division, you spend more time on subtraction and multiplication. If you have a student that isn’t ready for Stage 3 or Stage 4, you spend more time working on Stage 2. Where other teachers may see a kid who is still a discipline problem, you may be able to see one who is making progress. Seeing that progress, as slow as it might be, makes greeting that youngster each day a pleasure that his other teachers may never enjoy. Soon you will be opening the doors to the mutual inter-personal stage and really make a difference in his life.