Tampilkan postingan dengan label MANAGEMENT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MANAGEMENT. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 27 November 2010

Management by Heart

Alhamdulillahirrobil'aalamiin, Allahumma Shalli 'Ala Muhammad Wa ala 'alihi wa shahbihi ajma'in , para penyimak manajemenqolbu yg budiman apalah artinya jikalau kita memiliki rumah yang lapang, tanah yang luas jikalau hati kita sempit, apalah artinya uang melimpah jikalau hati selalu resah ,apalah artinya kalau kita memiliki kasur yang empuk, sofa yang empuk dan lembut jikalau hati keras membatu, apalah artinya kita memiliki penampilan yang rupawan jikalau hatinya naudzubillah menjadi busuk. 
percayalah  yang menjadi nilai bagi kita sebetulnya bukan topeng kita,  harta gelar pangkat dan jabatan, popularitas pujian penghargaan ternyata tidak selalu identik dengan kemuliaan hakiki
Jikalau hati kian bersih Insya Allah pikiranpun menjadi semakin jernih ,raut muka akan lebih indah bercahaya tutur kata pun akan jauh terjaga jikalau hati semakin bening pribadipun akan menjadi indah kebahagiannya benar-benar terasa setiap saat dalam situasi apapun akhlaq menjadi menawan orang-orangpun akan merasakan bagai cahaya matahari  yang selalu dirindukan kehadirannya yang bisa menumbuhkan bibit-bibit menyegarkan yang layu
Saudara-saudaraku sekalian ,hati yang tertata inilah yang membuat hidup kita jauh lebih indah dibanding sehebat apapun kedudukan, harta gelar pangkat dan jabatan yang kita miliki karena memang hidup seseorang tergantung hati nuraninya, manajemen qolbu akan menata hati nurani kita sekecil apapun potensi akan bangkit menjadi suatu yang optimal hasilnya  baik untuk dunia maupun akherat dan sebesar apapun potensi buruk  akan kita tahan dan kita tekan sehinga tidak muncul keburukan yang akan membuat kita terhina nista rugi dunia dan akherat Manajemen qolbu Insya Allah solusi bagi kita , solusi bagi keluarga kita dan solusi bagi bangsa kita.Wallahu a'lam bishowab (mikha)[manajemenqolbu.com]***

Kamis, 18 November 2010

OPERATIONAL MANAGEMENT

MANAJEMEN OPERASIONAL

Manajemen Operasional adalah usaha pengelolaan secara optimal penggunan faktor produksi : tenaga kerja, mesin-mesin, peralatan, bahan mentah dan faktor produksi lainnya dalam proses tranformasi menjadi berbagai produk barang dan jasa.

Apa Yang Bisa Dilakukan Manajer Operasi Dan Orientasi Manajer Operasi
Melakukan fungsi-fungsi proses manajemen : perencanaan, pengorganisasian, pembentukan staf, kepemimpinan dan pengendalian.
Orientasi manajer operasi ialah mengarahkan keluaran/output dalam jumlah, kualitas, harga, waktu dan tempat tertentu sesuai dengan permintaan konsumen.

Tanggung Jawab Manajer Operasi
  • Menghasilkan barang dan jasa.
  • Mengambil keputusan yang berkaitan dengan fungsi operasi dan sistem transformasi.
  • Mengkaji pengambilan keputusan dari suatu fungsi operasi.

Fungsi Produksi Dan Operasi
  •  Proses produksi dan operasi.
  •  Jasa-jasa penunjang pelayanan produksi.
  •  Perencanaan.
  •  Pengendalian dan pengawasan.

Ruang Lingkup Manajemen Operasi
1. Perancangan atau disain sistem produksi dan operasi
  •   Seleksi dan perancangan disain produk
  •   Seleksi dan perancangan proses dan peralatan
  •   Pemilihan lokasi dan site perusahaan dan unit produksi
  • Rancangan tata letak dan arus kerja
  •   Rancangan tugas pekerjaan
  • Strategi produksi dan operasi serta pemilihan kapasitas
2. Pengoperasian sistem produksi dan operasi
  • Penyusunan rencana produk dan operasi
  •   Perencanaan dan pengendalian persediaan dan pengadaan bahan
  • Pemeliharaan mesin dan peralatan
  •   Pengendalian mutu
  •   Manajemen tenaga kerja (SDM)

Pengambilan Keputusan
Dilihat dari kondisi atau keadaan dari keputusan yang harus diambil, ada 4 macam pengambilan keputusan :
1. Pengambilan keputusan atas peristiwa yang pasti
2. Pengambilan keputusan atas peristiwa yang mengandung resiko
3. Pengambilan keputusan atas peristiwa yang tidak pasti
4. Pengambilan keputusan atas peristiwa yang timbul karena pertentangan dengan keadaan lain.

Beberapa Jenis Pengambilan Keputusan Dalam Manajemen Operasi :
  Proses : keputusan mengenai proses fisik dan fasilitas yang dipakai
  • Kapasitas : keputusan untuk menghasilkan jumlah, tempat dan waktu yang tepat
  • Persediaan : keputusan persediaan mencakup mengenai apa yang dipesan, berapa banyak, kualitas dan kapan bahan baku dipesan
  •   Tenaga kerja : keputusan tenaga kerja mencakup seleksi, recruitment, penggajian, PHK, pelatihan, supervise, kompensasi dan promosi terhadap karyawan, penggunaan tenaga spesialis.
  •   Kualitas/mutu : keputusan untuk menentukan mutu barang dan jasa yang dihasilkan, penetapan standar, disain peralatan, karyawan trampil, dan pengawasan produk dan jasa.

Keputusan Dalam Manajemen Sistem Produksi
  •   Keputusan perencaan strategik jangka panjang dalam sumber daya
  •   Disain sistem produktif : pekerjaan, jalur proses, tata arus, dan susunan saran fisik
  •   Keputusan implementasi operasi : harian, mingguan dan bulanan.

Keputusan Perencanaan Strategis :
  • Pemilihan disain rangkaian produk dan jasa
  • Keputusan perencanaan kapasitas, lokasi gudang, rencana ekspansi
  • Sistem pembekalan, penyimpanan dan logistik.

Pengertian Sistem Produksi :
Wahana yang dipakai untuk mengubah masukan-masukan sumberdaya untuk menciptakan barang dan jasa.
Ada tiga macam sistem dalam proses produksi :
  •   Proses produksi yang kontinyu
  •   Proses produksi terputus-putus
  •   Proses produksi bersifat proyek

STRATEGI OPERASI
Strategi operasi merupakan fungsi operasi yang menetapkan arah untuk pengambilan keputusan yang diintegrasikan dengan strategi bisnis melalui perencaan formal. Menghasilkan pola pengambilan keputusan operasi yang konsisten dan keunggulan bersaing bagi perusahaan.
Tipe :
1. Strategi produksi biaya rendah, melalui penekanan biaya produksi :
  •   Teknologi tinggi, biaya tenaga kerja rendah, tingkat persediaan rendah, mutu terjamin.
  •   Bagian pemasaran dan keuangan mendukung.

2. Strategi inovasi produk dan pengenalan produk baru :
  •   Harga bukan masalah dalam pemasaran.
  •   Fleksibilitas dalam pengenalan produk baru.

PERENCANAAN PABRIK
Perencanaan pabrik (factoy planning) angat penting karena diperlukan untuk menjamin kelangsungan hidup dan perkembangan perusahaan agar tujuan perusahaan tercapai dengan efektif dan efisien.

Perencanaan Pabrik :
  •   Penentuan lokasi pabrik
  •   Perencanaan bangunan pabrik
  •   Penyusunan peralatan pabrik
  •   Penerangan, pengaturan suara rebut, dan udara dalam pabrik.

Pemilihan Lokasi Pabrik
Penentuan atau pemilihan lokasi pabrik adalah penting, karena mempengaruhi kedudukan perusahaan dalam persaingan, dan kelangsungan hidupnya. Penentuan lokasi pabrik juga harus mempertimbangkan kemungkinan ekspansi.

Tujuan Perencanaan Lokasi Pabrik
Tujuannya adalah agar perusahaan dapat beroperasi dengan lancar, efektif dan efisien. Penentuan lokasi memperhatikan faktor biaya produksi & biaya distribusi barang yang dihasilkan & faktor lokasi sangat penting untuk menurunkan biaya operasi.

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Lokasi Pabrik :
Faktor utama :
  •   Lingkungan masyarakat
  •   Kedekatan dengan pasar
  •   Tenaga kerja
  •   Kedekatan dengan bahan mentah dari pemasok
  •   Fasilitas dan biaya transportasi
  •   Sumberdaya alam lainnya
Faktor sekunder
  •   Harga tanah
  •   Dominasi masyarakat
  •   Peraturan tenaga kerja
  •   Rencana tata ruang
  •   Kedekatan dengan lokasi pabrik pesaing
  •   Tingkat pajak
  •   Cuaca/iklim
  •   Keamanan
  •   Peraturan lingkungan hidup
Pendekatan situasional atau contingency adalah penentuan lokasi berdasarkan faktor terpenting menurut kebutuhan dan kondisi masing-masing perusahaan. Misalnya :
  •   Dekat dengan pasar
  •   Dekat dengan sumber bahan baku saja
  •   Tersedia tenaga kerja

Perangkap Dalam Pemilihan Lokasi
  •   Lokasi sulit mendapatkan tenaga kerja .
  •   Lokasi dengan harga tanah murah, tetapi kondisinya jelek sehingga perlu biaya mahal untuk membuat pondasi.
  •   Lokasi diluar kota dengan harga murah, tetapi fasilitas prasarana jalan dan saran transportasi belum dibangun.
  •   Lokasi di sekitar pemukiman dan sulit membuang limbah.

Tahap Pemlihan Lokasi Pabrik
  •   Melihat kemungkinan beberapa alternatif daerah yang akan dipilih.
  • Melihat pengalaman orang lain dan pengalaman sendiri untuk menentukan lokasi pabrik.
  •   Mempertimbangkan dan menilai alternatif pilihan yang menguntungkan.

MULTI DISTRIBUTION CHANNEL

STRATEGI MENINGKATKAN PENJUALAN MELALUI MULTY DISTRIBUTION CHANNEL



Problem utama pemasaran adalah bagaimana memasarkan produk perusahaan secara luas. Sementara itu untuk melakukan hal ini membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Seperti yang diketahui, bahwa  Negara Indonesi adalah Negara kepulauan yang memiliki hambatan di bidang transportasi. Oleh sebab itu akhirnya hal ini menyurutkan keinginan produsen untuk berekspansi ke seluruh wilayah Indonesia. Ia akhirnya hanya mengerjakan sales territory yang terbatas, padahal agar meningkat penjualannya harusnya produsen menggali kemampuan penjualan untuk wilayah lain yang tidak dijamahnya.
Bagi produsen yang memiliki tekad memasarkan produknya secara luas, memiliki solusi untuk ini, yaitu membuka kantor cabang di kota-kota potensial di Indonesia. Tetapi dalam praktek untuk membuat kantor cabang tidak semudah membalikan telapak tangan, tetapi membutuhkan usaha-usaha yang sangat keras dan persiapan yang matang. Seperti sistem operasional, pimpinan cabang, infrastruktur kantor cabang, perijinan, SDM pelangkap serta lainnya. Dan tentu saja hal ini tidak mudah disusun begitu saja. Kendala yang utama sering muncul adalah tidak adanya pimpinan cabang yang akan mengoperasikan kantor cabang secara profesional oleh sebab sangat langkahnya SDM ini. Bahkan perusahaan untuk menyiapkan pegembangan usahanya, melakukan dengan banyak cara antara lain adalah membuat department management trainee, tetapi ternyata hasilnya tidak sesuai dengan kenyataan. Para calon kepala cabang yang dididik mulai dari nol ini seringkali ingkar janji dan mereka suka menolak tugas yang diberikan oleh perusahaan. Mendingan mereka membayar denda pembelajaran yang diberikan perusahaan, dan kemudian hengkang ke perusahaan competitor. Inilah kerugian produsen yang menyiapkan SDM pimpinan cabangnya. Akhirnya program pembukaan kantor cabang terhambat, hasilnya pengembangan pemasaran produk bergerak melambat.
Dari kasus diatas, ternyata masih sedikit perusahaan yang mengetahui solusi yang sangat tepat dan sangat effectif yang sudah dilakukan beberapa perusahaan multinasional maupun local. Mereka dengan cepat melejit tanpa harus pusing-pusing bagaimana menyiapkan kantor cabangnya di seluruh Indonesia. Siapa mereka-mereka itu? Antara lain adalah : Unilever, Nestle, Kraf, PT Sinar Antjol, Kimberly, Wing surya, Johnson & son, Cusson Indonesia, PT. Softex Indonesia, Mayora, serta banyak lainnya. Strategi apakah yang dibangun oleh mereka untuk memasarkan produknya ke seluruh wilayah Indonesia? Salah satu strategi yang dibangunnya adalah strategi MULTY DISTRIBUTION CHANNEL.

Aplikasi MULTY DISTRIBUTION CHANNEL ini memang diawal sangat rumit. Persoalannya harus mencari mitra yang ada di seluruh kota potensial sesuai peta penjualan yang sudah dibuat oleh produsen. Tetapi jika sudah ditemukan dan jalan, maka metode ini dapat “melipatgandakan penjualan” berkali lipat dibanding menggunakan cara membuka kantor cabang. Selain hal ini apa saja manfaat lain yang diterima produsen jika menggunakan MULTY DISTRIBUTION CHANNEL,  manfaat tersebut antara lain :
  • Produk produsen dapat disebarkan secara merata oleh distributor sesuai dengan sales territory yang ditentukan oleh produsen.
  • Sistem pembayaran ke produsen sudah diatur menggunakan MOU, dan secara legal distributor telah menjadi mitra utama, sebab distributor akan menyerahkan bank garansi sebagai jaminan.
  • Aplikasi program promosi dapat dipantau dengan baik sebab produsen mengirimkan SDM representatifnya yang turut membantu pengelolaan management distribusi.
  • Program promosi a bove the line pusat terkoneksi dengan baik sebab distributor akan mendukung pendistribusian produk hingga ke pelosok-pelosok sehingga efektifitas iklan akan memudahkan transaski penjualan.
  • Oleh karena kinerja distributor terpantau, dan komitmen dalam pendistribusian produk, maka tingkat persaingan yang sangat kompetitif dapat diimbangi dengan baik oleh produsen.
  • Secara jelas dengan adanya mitra kerja distributor, produk produsen tidak akan kosong di toko-toko sebab produsen telah menggunakan IT dalam bentuk software yang bisa memantau sampai dengan inventory produk di distributor. Persediaan barang di distributor sangat terjamin sehingga mengurangi kekosongan tersebut.
Di bawah ini terdapat perbandingan jika mendirikan kantor cabang dengan kalau bekerja sama dengan para distributor local.
KANTOR CABANG KETERANGAN DISTRIBUTOR KETERANGAN
Kantor Investasi Kantor Sudah ada
Gudang Investasi Gudang Sudah ada
Armda Delivery Investasi Armada Delivery Sudah ada
Staf Admin Penjualan Rekrutment Staf Admin Penjualan Sudah ada
Staf Accounting Rekrutment Staf Accounting Sudah ada
Ka & staf Logistik Rekrutment Ka & staf Logistik Sudah ada
Sales force Rekrutment Sales Force Sudah ada
Sales supervisor Rekrutment Sales supervisor Sudah ada
Kepala cabang Rekrutment Manager operasional Sudah ada
Support IT Investasi Support IT Sudah ada
Peralatan kantor Investasi Peralatan kantor Sudah ada
Pelanggan Mencari Pelanggan Sudah ada

Jika membandingkan pada table diatas, sudah bisa dihitung secara kasar mendirikan kantor cabang yang ada di seluruh Indonesia, produsen akan mengeluarkan biaya investasi yang cukup besar. Sangat berbeda sekali jika produsen bekerja sama dengan para distributor local yang ada di tanah air. Maka produsen dalam waktu singkat akan bisa mengoperasikan program pemasarannya ke seluruh Indonesia. Seperti yang diketahui prasarana dan sarana distributor dalam memasarkan produk sudah siap sedia. Dengan beberapa manfaat keuangan antara lain:
  • Piutang penjualan produsen dapat dikontrol dengan baik, sebab piutang penjualan hanya antar produsen dengan distributor. Sangat berbeda jika harus mendirikan kantor cabang, piutang penjualan produsen tersebar sesuai dengan peta wilayah kantor cabangnya.
  • Keamanan pembayaran lebih aman menggunakan distributor dibanding dengan menggunakan kantor cabang. Apabila pengontrolan piutang penjualan sangat lemah, maka resiko piutang bad debt di kantor cabang akan meningkat. Hal ini merupakan kerugian produsen.

Manfaat lainnya di biaya operasional jika bekerja sama dengan distributor local dibanding mendirikan kantor cabang, antara lain:
  • Produsen akan mengeluarkan biaya operasional yang cukup besar jika menggunakan kantor cabang. Misalnya biaya gaji SDM, biaya bahan bakar, biaya uang makan, biaya ATK, serta biaya kebutuhan SDM pemasaran lainnya. Berbeda kalau bekerja sama dengan Distributor, produsen tidak mengeluarkan biaya tersebut, hanya diskon lebih besar dari normal saja yang dikeluarkan oleh produsen.
  • Biaya operasional yang cukup besar ini juga karena besarnya SDM yang dimiliki di setiap kantor cabang. Selain biaya yang besar, pengelolaan SDM ini cukup rumit. Selain itu di jangka panjang produsen harus siap dengan pesangon jika SDM di-PHK.
Nah, setelah mengetahui hal ini tentunya perlu dipertimbangkan, bahwa untuk meningkatkan penjualan memerlukan strategi yang cukup mantap. MULTY DISTRIBUTION CHANNEL adalah jawaban yang SMART.
Untuk mendapatkan perbandingan dan referensi bacaan yang sesuai maka baca buku : DISTRIBUTORSHIP MANAGEMENT & WINNING IN THE BATTLE WITH DISTRIBUTION STRATEGY karya Frans M. Royan.

Rabu, 17 November 2010

ELASTISITAS OF PRICE

Perilaku Harga Pasar dan Konsumen - Bab VII Elastisitas Harga

Dari uraian-uraian sebelumnya kita telah mengetahui bahwa perubahan harga suatu barang bertendensi menimbulkan reaksi para pembeli barang tersebut berupa berubahnya umlah yang diminta. Pada umumnya meningkatnya harga mengakibatkan berkurangnya jumlah barang yang diminta dan sebaliknya menurunnya harga mengakibatkan meningkatnya jumlah barang yang diminta. kalau kits bandingkan antara barang yang sate dengan barang yang lain, kita akan menemukan bahwa intensitas reaksi pembeli tehadap perubahan harga dalam bentuk peningkatan atau penurunan jumlah yang diminta berbeda-beda. Dengan perubahan harga yang sama perubahan dalam jumlah yang diminta untuk barang satu bisa lebih banyak daripada untuk barang yang lain. Untuk mengukur intensitas reaksi pembeli terhadap perubahan harga barang yang bersangkutan para pemikir ekonomi telah menciptakan suatu alat analisis yang disebutnya elastisitas.

Dalam bab ini kita membatasi diri kepada elastisitas yang dapat dipergunakan untuk niengukur intensitas reaksi konsumen atau pembeli pada umumnya dalam bentuk perubahan jumlah barang yang diminta terhadap perubahan harga harga satuan barang tersebut, yang biasa disebut elastisitas harga permintaan atau price elasticity of demand, yang biasa jugs hanya disingkat elastisitas harga atau price elasticity, atau bahkan Bering pula hanya disebutelastisitas permintaan atau deman elasticity. Meskipun kenyataanya adalah demikian, namun kiranya lebih baik kita menggunakan sebutan yang lengkap, mengingat bahwa kita mengenal tidak hanya satu macam elastisitas harga dan juga tidak hanya satu macam elastisitas permintaan. Nanti kita akan menemukan bahwa di samping elastisitas harga permintaan. Nanti kita akan menemukan bahwa di samping elastisitas harga permintaan, juga kita jumpai elastisitas pendapatan permintaan, yang biasa disebut income elasticity of demand, elastisitas silang atau cross-elasticity dan juga elastisitas harga penawaran, yang biasa disebut juga price elasticity of supply. Tambahan pula selain daripada itu masih ada konsepsi-konsepsi elastisitas lainnya yang di luar lingkup buku ini.

7.1. BEBERAPA RUMUS DASAR ELASTISITAS HARGA

Kita mengenal beberapa bentuk perumusan dasar elastisitas harga yang dapat dipergunakan untuk menghitung tingginya koefisien elastisitas

1. Elastisitas jarak atau arc elasticity. Lebih lanjut perumusan elastisitas jarak ini dibedakan antara:
(a) perumusan dasar elastisitas jarak, dan
(b) perumusan elastisitas jarak dengan modifikasi.

2. elastisitas titik atau pointelasticity. Uraian mengenai cara menghitung koefisien elastisitas titik dengan menggunakan grafik dapat dibedakan antara :
(a) cara menghitung koefisien elastisitas titik untuk kurva permintaan berbentuk garis lurus, dan
(b) cara menghitung koefisien elastisitas titik untuk kurva permintaan berbentuk garis lengkung.

Di bawah ini diuraikan cara-cara menghitung koefisien elastisitas harga permintaan dengan menggunakan sistematika di atas.

7.2. RUMUS DASAR ELASTISITAS JARAK

Yang dimaksud dengan elastisitas jarak atau arc elasticity sebuah kurva permintaan ialah elastisitas yang dihitung dari dua buah titik yang berjuahan dari sebuah kurva permintaan. kalau kita ingin mengetahui elastisitas jarak untuk kurva permintaan akan barang Z yang digambarkan oleh kurva permintaan DD pada Gambar 7.2.1. antara titik A dan titik B, maka kita dapat mempergunakan rumus dasar elastisitas harga permintaan di bawah ini.
Mengingat bahwa AZ/Z merupakan angka pecahan atau persentase perubahan kuantitas barang Z yang diminta, dan A H/H merupakan angka pecahan atau persentase perubahan harga barang Z tersebut yang mengakibatkan berubahnya kuantitas barang yang diminta, maka kesamaan (7.2.1.) dapat pula diungkapkan sebagai berikut :
di mana :
Eh : elastisitas harga permintaan
AZ : perubahan kuantitas barang Z yang diminta
Z: kuantitas barang Z yang diminta sebelum adanya perubahan harga OH : perubahan harga barang Z
H: harga barang Z sebelum berubah.

Dari Gambar 7.2.1. kita saksikan bahwa perubahan dari titik A ke titik B mengandung makna bahwa sebagai akibat daripada menurunnya harga barang Z dari semula setinggi Rp 500/Z turun menjadi Rp 400/Z mengakibatkan jumlah barang Z yang diminta bertambah dari semula 4 unit menjadi 6 unit per satuan waktunya.

Apabila kita menggunakan perumusan (7.2.1.), kita menemukan :


Apabila untuk menghitung elastisitas tersebut dipergunakan rumus (7.2.2.), hasilnya juga akan persis sama :

- berubahnya jumlah yang diminta dari 4 unit menjadi 6 barang Z berarti ada kenaikan jumlah yang diminta sebesar 50%.

- berubahnya harga satuan barang Z dari Rp SOOIZ menjadi Rp 400/Z dapat disebutkan sebagai adanya penurunan harga satuan barang Z setinggi 20%. - dengan menggunakan perumusan (7.2.2) :

Dari hasil perhitungan di atas kita temukan bahwa tanda daripada kofesien elastisitas adalah negatif. Negatifnya koefisien elastisitas tersebut disebabkan oleh bentuk kurva permintaan yang dari kiri ke kanan menurun, yaitu sesuai dengan hukum permintaan. Mengingat bahwa kebanyakan kurva permintaan bentuk yang demikian, maka kalau toh koefisien elastisitas harga kurva permintaan tersebut tandanya tidak dicantumkan kita dapat memastikan bahwa tandanya adalah negatif juga. Oleh karena itulah maka tidak sedikit yang berpendapat dapat diabaikan. Bahkan ada yang lebih dari itu, menyarankan agar supaya hasil koefisien elastisitasnya mempunyai tanda positif disarankan agar supaya rumus-rumus koefisien elastisitas harga kurva permintaan tanda negatif. Untuk rumus koefisien elastisitas (7.2.1) misalnya, perlu diubah sedikit menjadi ;
Dengan demikian koefisien elastisitas kurva permintaan DD pada Gambar 7.2.1. untuk jarak antara A dan B tidak lagi diketemukan setingi -2'/Z melainkan setinggi 7'/Z.

7.3. RUMUS ELASTISITAS JARAK DENGAN MODIFIKASI

Rumus-rumus dasar elastisitas jarak seperti yang diungkapkan dalam (7.2.1) maupun (7.2.2) sebetulnya mempunyai kelemahan. Daripenggunaan kedua rumus elastisitas tersebut, seperti kita ketahui telah diketemukan bahwa elastisitas permintaan barang Z terhadap harga dari titik A ke titik B adalah setinggi 2,5. Dari hasil perhitungan tersebut, kita tidak dapat mengatakan bahwa yang tinggi elastisitasnya 2,5 adalah elastisitas permintaan terhadap harga di antara titik A dan titik B, sebab kalau kita perhatikan betul-betul, dengan menggunakan kedua rumus tersebut hasil perhitungan elastisitas dari titik A ke B berbeda dengan hasil perhitungan dari titik B ke A. Kalau elastisitas dari A ke B telah kita ketahui adalah setinggi 2,5, elastisitas dari B ke A adalah setinggi :

Untuk mengatasi kelemahan tersebut, maka dapat disarankan untuk dipergunakannya rumus yang telah dimodifikasinya. Rumus elastisitas dengan modifikasi kita sajikan dalam (7.3.1).

Kalau rumus (7.3.1) ini kita teapkan pada perhitungan koefisien elastisitas jarak antara titik A dan titik B pada kurva permintaan DD Gambar 7.2.1. kita menemukan

Koefisien elastisitas jarak yang kita temukan dengan menggunakan rumus (7.3.1) akan tidak berbeda, apakah koefisien tersebut dihitung dengan menggunakan perubahan dari titik A ke titik B ataukah dihitung dengan menggunakan perubahan dari titik B ke titik A.

7.4. MENGHITUNG ELASTISITAS TITIK

Kalau elastisitas jarak sebuah kurva permintaan menunjukkan tingginya elastisitas di antara dua titik yang berjauhan dari sebuah kurva permintaan, elastisitas titik sebuah permintaanmenunjukkantingginyaelastisitas pada sebuah titik pada sebuah kurvapermintaan. Rumus elastisitas (7.2.1.) masih tetap berlaku hanya saja dengan catatan bahwa perubahan harga yang diperhitungkan, yaitu AH, harus dibuat demikian kecil mendekati nol. Dengan perubahan nilai H yang mendekati nol, maka secara matematik rumus dasar elastisitas permintaan terhadap harga menjadi sebagai berikut :

yang juga dapat kita tulis :

Cara menemukan koefisien elastisitas titik sebuah permintaan terhadap harga dapat diterangkan dengan menggunakan Gambar 7.4.1.
Apabila misalnya kita ingin mengetahui koefisien elastisitas kurva permintaan AC pada titik B, kita dapat menggunakan salah satu dari tiga buah rumus di bawah ini :
Pembuktian atau penurunan daripada ketiga rumus tersebut adalah sebagai berikut : Kita telah mengetahui bahwa koefisien elastisitas harga kurva permintaan adalah sebagai berikut :


Ini berarti bahwa rumus (7.4.4) sudah berhasil dibuktikan.
Untuk membuktikan rumus (7.4.3) dan (7.4.5) kita perhatikan segitiga ADB dan segitia BEC. Kedua segitiga ini adalah sebangun, oleh karena kedua segitia tersebut mempunyai tiga sudut yang besarnya sama. Sudut ADB sama dengan sudut BEC, oleh karena kedua-duanya adalah sudut siku-siku. Sudut DAB sama besarnya dengan sudut EBC, oleh karena garis OA sejajar dengan garis EB dan CBA merpakan sebuah garis lurus. Oleh karena kedua segitiga tersebut dua sudutnya sudah terbukti sama maka sudut ketiga, yaitu sudut DBA dan ECB juga sama besar.

PRICE OF MARKET

Perilaku Harga Pasar dan Konsumen - Bab VI Beberapa Contoh Penerapan Teori Harga Pasar

6.1. HARGA BERLIAN LAWAN HARGA UDARA

Dalam dunia yang nyata Bering kita menjumpai kejadian-kejadian yang sepintas lalu kelihatanya aneh. Misalnya saja kits tahu bahwa tanpa berlian kita dapat hidup, akan tetapi tanpa udara dalam waktu beberapa menit saja kita akan mati. Tetapi mengapa udara tidak mempunyai harga sedangkan berlian harganya mahal sekali ?

Dari Gambar 6.1.1. D (U) merupakan kurva permintan pasar akan udara, sedangkan D (B) merupakan kurva permintaan akan berlian. Dari kurva ini jelas bahwa masyarakat menempatkan alat pemuas kebutuhan berpa udara jauh di atas alat pemuas kebutuhan berupa berlian tambahan pula lebih pula lebih inelastik. Tetapi mengapa harga berlian sangat tinggi, sedangkan udara sama sekali tidak mempunyai harga dan karenanya dapat pula kita sebut sebagai barang bebas?
Kita harus ingat bahwa yang menentukan harga pasar bukannya permintaan pasar melulu. Penawaran juga turut menentukannya. Dari Gambar 6.1. i . oleh karena titik potong antara penawaran akan berlian, S (B), dengan kurva permintaan pasar akan berlian D (B)terletak tinggi di atas sumbu horisontal, maka harga berlian yang terjadi juga tinggi, yaitu setinggi E. Di lain pihak penawaran pasar akan udara karena jauh ke kanan tidak berpotongandengan kurva D (U), akibatnya udara merupakan barang bebas, sama sekali tidak ada harga pasarnya.

6.2. JASA WISATA KE BULAN

Sudah dibuktikan bahwa manusia ini mampu mendaratkan sesamanya di bulan. Ini dapat menimbulkan pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut : Mengapa sampai sekarang tidak ada perusahaan yang beroperasi dalam bidang penyajian jasa wisata ke bulan? Apakah kenyataan tersebut disebabkan tidak adanya orang yang mempunyai keinginan untuk melanong ke bulan ?

Belum adanya transaksi jual-beli jasa wisatake bulan hingga dewasa ini bukanlah karena tiak ada perusahaan swasta yang mampu menerbangkan langganannya ke bulan; melainkan kalau diterangkan dengan menggunakan konsepsi permintaan dan penawaran jawabnya ialah bahwa sampai sekarang kurva permintaan pasar dan kurva penawaran pasar akan jasa wisata ke bulan belum menghasilkan titik potong yang terletak pada kuadran pertama. Gambar 6.2.1. menerangkan hal ini.

Pada gambar tersebut kurva S (B) merupakarr kurva penawaran pasar jasa wisata ke bulan, sedangkan D(B) merupakan kurva permintaan pasar jasa wisata ke bulan. Kurun waktun sekarang kita tandai dengan tanda 0, yaitu kurun waktu 0. pada waktu kurun waktu 0 kita saksikan kurva S(B) tidak saling berpotongan dengan kurva D(B). Ini berarti transaksi jual-beli jasa wisata ke bulan tidak terjadi.
Akhirnya perlu diketengahkan di sini bahwa perekonomian mengalami perubahan. Demikian juga permintaan pasar dan penawaran pasar akan jasa wisata ke bulan juga dapat berubah dari kurun waktu ke satu ke kurun waktu berikutnya. Dapatlah kiranya diramalkan bahwa dengan berlalunya kurva D(B) bergeser ke kanan, misalnya saja sebagai akibat semakin banyaknya jumlah si kaya dan semakin tinggi pendapatan si kaya. Di lain pihak kurva S(B) mungkin juga bergeser ke kanan sebagai akibat adanya penemuan-penemuan baru yang dapat menyebabkan rendahnya biaya pembuatanpesawat yang diperlukan untuk mengangkut para wisatawan ke bulan. Dari Gambar 6.2.1. kita saksikan bahwa baru pada periode ke 2 kita jumpai adanya titik potong kurva D(B) dengan kurva S(B) pada kuadran positif untuk harga dan untuk kuantitas. Ini berarti bahwa pada periode ke 2 tesebut mulailah kita jumpai transaksi jual-beli jasa wisata ke bulan.

6.3. ANTRIAN DAN JATAH

Pada masa Orde Lama kita sering melihat adanya antrian membeli barang. Tetapi sekarang jarang kita jumpai antrian-antrian tersebut. Terhadap kenyataan seperti ini kita cenderung untuk menyimpulkan bahwa antrian timbul karena jumlah persediaan tidak cukup memenuhi kebutuhan masyarakat.

Kalau kita teliti betul, timbulnya antrian sebetulnya bukan disebabkan oleh karena jumlah persediaan tidak mampu mencukupi seluruh kebutuhan masyarakat, melainkan disebabkan oleh adanya pengawasan harga oleh pemerintah. Dengan harga tertinggi yang ditetapkan oleh pemerintah yang lebih rendah daripada titik potong kurva permintaan pasar dengan kurva penawaran pasar, akan timbul antrian. Perhatikan Gambar 6.3.1.

Apabila dengan kurva permintaan pasar DD dan kurva penawaran pasar SS yang mempunyai titik potong E, pemerintah menetapkan harga tertinggi OF, maka akan timbul kelebihan permintaan AB. Kelebihan permintaan ini dapat terjelma dalam bentuk antrian, yang panjang-pendeknya tergantung kepada bentuk kurva permintaan pasar, bentuk kurva penawaran pasar dan jarak perbedaan antara tingginya harga tertinggi yang ditetapkan pemerintah dengan titik potong kurva permintaan pasar dengan kurva penawaran pasar tersebut.

Apabila pemerintah menghendaki harga barang Z tetap setinggi OF yang tidak disertai adanya antrian, pemerintah harus memasukkan tambahan penawaran barang Z tersebut sebanyak AB sehingga kurva dari pasar lain atau kalau dari pasar yang sama haruslah dipenuhi syarat bahwa tambahan penawaran tersebut berasal dari pembelian pemerintah pada periode-periode sebelumnya.

Akan tetapi apabila pemerintah tidak berhasil memasukkan tambahan penawaran yang dibutuhkan tersebut, antrian tidak dapat dihindarkan. Untuk mengatasi masalah ini pada umumnya metode distribusi tidak lagi diserahkan kepada mekanisme pasar meliankan dipergunakan sistem jatah, yang dalam literatur biasa disebut sitem rationing. Dalam sistem rationing maupun sistem antrian, mereka yang berhasil memperoleh jatah tendensinya memperoleh keuntungan lebih tinggi sekitar FH per Z, oleh karena harga beli ditetapkan OF, sedangkan harga jualnya (dengan sendirinya di pasar gelap) adalah sekitar OH.

Apabila tidak ada pengawasan harga pemerintah antrian sebagai akibat daripada adanya kelebihan permintaan tidak akan terjadi, sebab kelebihan permintaan akan mengakibatkan meningkatnya harga, sedangkan meningkatnya harga akan memperkecil kelebihan permintaan. Gejala ini akan terus berlangsung sehingga kelebihan permintaan sama sekali hilang.

6.4. PAJAK PENJUALAN

Pajak penjualan dan pajak-pajak tidak langsung lainnya sangat populer; banyak dipergunakan oleh pemerintah antara lain sebagai sumber pendapatan negara. Yang tergolong dalam kategori pajak tidak langsung, antara lain ialah pajak penjualan, pajak penjualan impor, cukai, bea masuk, dan pajak ekspor. Semua ini disebut sebagai pajak tidak langsung oleh fihak yang menyerahkan pungutan pajak bukannya fihak yang dikenai pajak. Dalam hal ini yang bertindak sebagai fihak yang diserahi tugas oleh pemerintah untuk memungut pajak adalah para penjual hasil pungutan pajak tersebut oleh para penjual diserahkan kepada pemerintah. Sebaliknya dalam hal ini oleh penjual beban pajak tersebut dilimpahkan kembali kepada pemakai barang tersebut.
Tetapi masalahnya ialah apakah betul penjual bisa melimpahkan seluruh pajak penjualan tersebut kepada pemakai? Untuk jawabannya kita perhatikan uraian di bawah ini.

Pertama-tama kita harus mengetahui bahwa pajak penjualan dapat dianggap sebagai tambahan harga yang harus dibayarkonsumen atau sebagai pengurangan hasil penerimaan yang diterima oleh penjual. Untuk pendekatan yang pertama, pajak penjualan menyebabkan
bergesernya kurva penawaran ke atas dengan jarak sebesar pajak penjualan per unit yang dikenakan. Sedangkan menurut pendekatan kedua pajak penjualan menyebabkan bergesernya kurva permintaan ke bawah juga dengan j arak sebesar paj ak penjualan per unit yang dikenakan.

Di bawah ini kita uraikan tiga kasus yang berbeda mengenai pelimpahan pajak penjualan tersebut dengan menggunakan Gambar 6.4.1. :

A. Penawaran Inelastik Sempurna. Dari gambar A jelas bahwa dengan kurva penawaran pasar yang inelastik sempurna, pungutan pajak penjualan sama sekali tidak dapat digesrekan kepada konsumen. Seluruh pajak menjadi beban penjual. Dengan pajak penjualan setinggi p = EF = EEP volume transaksi jual-beli tetap sebesar OS unit. Pembeli, yaitu konsumen, untuk setiap unti barang Z, membayar dengan harga OHK = SE. Penerimaan bersih penjual atau produsen dari setiap unit barang Z yang terjual, sebelum ada pengenaan pajak penjualan adalah sebesar SE, sedangkan sesudah ada pengenaan pajak berubah menjadi hanya sebesar SF. Perbedaaan sebesar EF diterima pemerintah sebagai hasil pungutan pajak.

B. Permintaan Inelastik Sempurna. Dari gambar B jelas bahwa dengan kurva permintaan pasar yang inelastik sempurna seluruh beban pajak menjadi beban konsumen. Volume transaksi tidak berubah sebanyak OD unit per satuan waktunya. Harga per unit yang harus dibayar konsumen meningkat dari semula DE menjadi DF. Ini dapat ditafsirkan bahwa hasil penerimaan produsen atau penjual untuk setiap unit barang Z yang terjual tetap sebesar OHJ = De. Dengan demikian produsen atau penjual sama sekali tidak menanggung beban pajak. Seluruh pajak yang dibayarkan kepada pemerintah yaitu sebesar EF per Z dilimpahkan kepada pembeli.

C. Permintaan Dan Penawaran Berbentuk Normal. Yang banyak terjadi dalam dunia nyata adalah kasus ini, yaitu kasus di mana kurva permintaan ke kanan menurun dan kurva penawaran ke kanan naik. Dengan dikenakannya pajak penjualan setinggi p, dengan menggunakan pendekatan yang pertama, pajak menyebabkan bergesernya kurva penawaran dari semula SS menjadi SpSp. Kalau dipergunakan pendekatan yang lain, kurva permintaan bergeser dari semula DD menjadi DpDp. Entah pendekatan yang mana yang kita pakai hasil-hasil kesimpulannya akan sama, yaitu : (a) volume transkasi menurun, dari semula sebanyak OZ unit sekarang hanya OZp. (b) harga satuan yang dibayar oleh pembeli semula setinggi OHe = ZE, sekarang meningkat menjadi setinggi OHk = ZpA. Ini berarti ada kenaikan sebesar AB, yang sekaligus merupakan beban pajak yang ditanggung oleh pembeli. (c) penerimaan per unit yang diterima oleh penjual berkurang dari semula setinggi OHe = ZE, sekarang tinggal setinggi OHj = ZpC. Perbedaannya, yaitu sebesar BC,menunjukkan besarnya beban pajak per unit yang ditanggung oleh penjual.

6.5. SPEKULASI

Kalau kita mendengarperkataan spekulasi, tendensinyadalam angan-angan kitaterbayang rakus seorang spekulan dengan bertindak menekan harga beli mereka serendah-rendahnya dan menentukan harga jual setinggi-tingginya. Sehingga tidak sedikit orang memandang tindakan spekulasi sebagai tindakan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan dari segi kepentingan masyarakat.

Pendapatan tersebut tidak selalu dan tidak pula sepenuhnya benar. Sebab, kita sebetulnya mengenal paling tidak dua macam spekulasi, yaitu : (1) spekulasi yang menstabilkan, yang biasa disebut uga destabilizing specultion. Spekulasi yang melabilkan, memang pengaruhnya terhadap perekonomian sangat merugikan. Akan tetapi spekulasi yang menstabilkan bagi masyarkat menguntungkan, bahkan boleh dikatakan diperlukan.

Di bawah ini akan diuraikan mengenai ke dua macam spekulasi tersebut. Untuk spekulasi yang menstabilkan sebagai contoh ilustrasi kita pilih spekulasi beras, sedangkan untuk spekulasi yang melabilkan sebagai contohnya kita pergunakan spekulasi valuta asing.

A. Spekulasi yang Menstabilkan

Di sini yang dimaksud dengan spekulasi ialah tindakan yang bertujuan untuk memperoleh keuntungan yang timbul dari adanya perubahan harga pasar barang yang menjadi obyek spekulasi. Tindakan yang diambil oleh spekulan beras murah, menjualnya pada waktu musim paceklik pda saat mana harga beras mahal, spekulan akan memperoleh keuntungan berupa selisih harga jual dengan harga belinya sesudah dikurangi dengan semua ongkos yang dikeluarkanya.

Spekulasi yang menstabilkan pada umumnya dijumpai dalam kasus-kasus di mana penurunan harga diikuti oleh ramalan akan naiknya harga dan sebaliknya peningkatan harga diikuti oleh ramalan akan turunnya harga barang tersebut. Sebagai contohnya dapat kita ambil spekulasi beras. Seperti kita ketahui untuk beras kita mengenal musim panen dan musrm paceklik. Dengan menggunakan Gambar 6.5. IA. kita melihat bahwa tanpa adanya spekulasinya, kurva penawaran akan beras digambarkan sebagai kurva Sn Sn untuk kurva penawaran pada musim panen dan SkSk untuk kurva penawaran akan beras untuk musim paceklik. Dengan demikian pada musim panen harga beras mencapai ekuilibrium setinggi OHn sedangkan pada musim paceklik harga ekuilibrium beras mencapai setinggi OHk. Fluktuasi harga beras tanpa adanya spekulasi dengan sendirinya akan berbentuk kurva gelombang HH pada Gambar 6.5. IA.

Dengan mengetahui pola fluktuasi hargaberas tersebut, para spekulan mempertimbangkan bagaimana kalau membeli beras pada musim panen dan menjualnya pada waktu paceklik dengan maksud mendapatkan keuntungan. Karena perbedaan harga pada musim panen dengan pada musim paceklik cukup besar, yang berarti tindakan spekulasi diperkirakan menguntungkan, maka permintaan akan beras meningkat dari semula sebesar D sekarang menjadi D + Ds dengan perbedaan sebesar jumlah permintaan akan beras untuk maksud spekulasi. Sebagai akibat daripada adanya spekulasi tersebut harga pasar yang terjadi pada musim panen tidak lagi setinggi OHn tetapi sekarang setinggi OHsn . Perhatikan juga Gambar 6.5. 1B.
Apabila musim paceklik tiba tidak ada alasan bagi spekulan untuk menyimpan terus beras yang dibelinya pada waktu musim panen. Mereka tahu bahwa harga beras, sesudah musim paceklik lewat akan turun lagi. Dengan demikian mereka akanmenjual persediaan beras yang mereka beli pada waktu musim panen. Sebagai akibatnya penawaran akan beras di pasar meningkat dari Sk ke Sk + Ss, dan karenanya harga ekuilibrium pada musim paceklik tidak lagi setinggi OHk, melainkan setinggi OHsk. Dengan demikian, justru sebagai akibat adanya spekulasi, harga beras menjadi lebih stabil. Pada waktu musim panen harga beras menurunnya tidak serendah tidak adanya spekulasi dan pada musim paceklik harga beras tidak meningkat setinggi tanpa adanya spekulasi. Dalam contoh Gambar 6.S.1B fluktuasi harga beras sebagai akibat adanya spekulasi berubah dari HH menjadi HsHs. Terbuktilah sekarang bahwa spekulasi ada yang pengaruhnya justrumenstabilkan harga.

B. Spekulasi yang melabilkan

Contoh yang sangt baik untuk spekulasi yang melabilkan ialah spekulasi valuta asing. Spekulasi yang melabilkan in, yang biasa disebut destabilizing speculation, dalam bidang valuta asing terjadi apabila naiknya harga valuta asing, yang lebih lazim disebut kurs valuta asing diikuti oleh ramalan akan meningkatnya kurs valuta asing tersebut lebih lanjut. Sebagai akibat daripada perkiraan bahwa kurs valuta asing akan terus meningkat, para importir akan berlomba-lomba membeli valuta asing, takut kalau harga valuta asing yang mereka butuhkan harganya naik lagi. Sebaliknya para eksportir bertendensi untuk menahan valuta asing yang ada di tangan mereka. Mereka bertendensi menunggu kurs naik lebih tinggi lagi, sebab dengan cara demikian mereka akan memproleh keuntungan yang lebih tinggi. Sebagai akibat daripada memperoleh keuntungan yang lebih tinggi. Sebagai akibat daripada meningkatnya jumlah valuta asing yang diminta oleh para importir dan menurunnya jumlah valuta asing yang oleh para eksportir sanggup menjualnya, kelebihan permintaan atau excess demand akan valuta asing menjadi bertambah besar. Bertambah besarnya kelebihan permintaan ini mengakibtkan kurs valuta asing meningkat lebih cepat. Meningkatnya kurs valuta asing yang lebih cepat lebih lanjut kembali menimbulkan perkiraan atas ramalan bahwa kurs akan meningkat lebih tinggi lagi. Akibatnya kembali lagi para importir berlomba-lomba membeli valuta asing, sedangkan para kesportir menahan valuta asing yang dimilikinya. Ini lebih lanjut mengakibatkan bertambah besarnya kelebihan permintaan. Demikian seterusnya, proses kenaikan kurs valuta asing yang diikuti oleh bertambah besarnya excess demand yang selanjutnya mengakibatkan meningkatnya kurs valuta asing, akan berjalan terus.

Pada umumnya gejala spekulasi yang melabilkan tersebut diterangkan dengan menggunakan grafik-grafik seperti terlihat pada Gambar 6.5.2A dan Gambar 6.5.2B.
Dari Gambar 6.5.2A kita saksikan bahwa kurva permintaan akan valuta asing DD dan juga kurva penawaran valuta asing SS dalam pasar di mana terdapat destabilizing speculation kedua-duanya mempunyai bentuk yang tidak normal. Kurva permintaan mempunyai lereng yang positif, yaitu ke kanan naik, sedangkan kurva penawaran mempunyai lereng yang sudut negatif, yaitu ke kanan menurun. Dengan kurva permintaan yang berbentuk demikian itu naiknya kurs dari Rp 0 Ko/$ ke Rp OK,/$ misalnya, jusru mengakibatkan bertambahnya jumlah valuta asing yang diminta. Yaitu pada Gambar 6.5.2A dari OVo ke OV2. Sebaliknya dengan kurva penawaran yang menurun ke kanan, naiknya kurs valuta asing dengan KOKI justru mengakibatkan menurunnya jumlah valuta asing yang ditawarkan akan menyebabkan meningkatnya kurs valuta asing lebih tinggi lagi.

Pada Gambar 6.5.2B kita menemukan tiga buah titik potong antara kurva permintaan dan kurva penawaran. Ketiga titik potong tersebut ialah T1, To dan T2. Dari ke tiga titik potong tersebut hanya titik To merupakan titik ekuilibrium yang stabil oleh karena pada titik tersebut dan titik-titik di dekatnya koefisien arah garis permintaan lebih kecil daripada koefisien arah garis penawaran. Apabila terjadi kenaikan kurs valuta asing sedikit di atas To, akan terjadilah kelebihan penawaran, kelebihan mana mengakibatkan menurunnya kurs valuta asing.

Sebaliknya apabila kurs menurun tiak jauh di bawah To akan terjadi kelebihan permintaan, hal mana menyebabkan kurs kembali meningkat menuju titik To hal ini tidak berlaku untuk titik T1 dan T2. Pada titik potong T1 dan T2 berlaku destabilizing speculation, sebab naiknya kurs valuta asing mempunyai tendensi meningkatkan jumlah kelebihan permintaan, sebaliknya menurunnya kurs valuta asing meninggalkan titik-titik tersebut bertendensi untuk meningkatkan excess supply valuta asing. Kegoncangan atau fluktuasi kurs valuta asing menjadi semakin hebat.

6.6. PERDAGANGAN ANTAR-DAERAH

Kita mengetahui bahwa negara kita terdiri dari banyak pulau. Hal ini membawa kenyataan untuk barang yang sama harganya bisa sangat berbeda di antara daerah atau pulau yang satu dengan daerah atau pulau yang lain. Dengan lain perkataan, kita dalam praktek perlu membedakan antara pasar daerah yang satu dengan pasar daerah yang lain. Adapun mengenai batas-batas daerah/pasar tidak perlu sama dengan batas-batas administrasi pemerintah, melainkan lebih didasarkan kepada faktor-faktor ekonomi, seperti misalnya ongkos transport dan derajat mobilitas barang-barang dan sumber-sumberdaya.

Dari uraian di atas, jelaslah betapa pentingnya kita memiliki pengetahuan tentang perdagangan antar-daerah. Sub-bab ini disajikan untuk menguraikan tentang perdagangan antar-daerah di mana diasumsikan tidak diperlukannya biaya transpor untuk membawa barang dari daerah yang satu ke daerah yang lain. Sedangkan pada sub-bab 6.7. akan kita saksikan pengaruh biaya transport terhadap perdagangan antar daerah.

Dengan menyadari adanya perbedaan-perbedaan antara daerah dalam hal jumlah penduduk, pendapatan, baik per kapita maupun angka totalnya, kesukaan, selera atau cita rasa penduduk, keaneka-ragaman barang-barang dan jasa-jasa yang tersedia, dan seterusnya, maka kiranya mudah difahami bahwa kurva permintaan paar akan barang yang sama tendensinya berbeda-beda antara daerah yang satu dengan daerah yang lain. Untuk mudahnya kita misalnya suatu negara yang terdiri dari dua pulau, yaitu pulau A dan pulau b, yang mula-mulanya sama sekali tidak ada kontak atau hubungan di antara penduduk ke dua pulau tersebut. Pada Gambar 6.6.1. kita gambar kurva permintaan pasar masyarakat pulau A akan barang Z sebagai kurva DADA, sedangkan kurva yang serupa untuk masyarakat pulau B kita tandai dengan tanda DB DB.

Seperti halnya dengan kurva permintaan, kurva penawaran pasar akan suatu barang juga tendensinya berbeda antara daerah yang satu dengan daerah yang lain. hal ini disebabkan oleh karena pada umumnya keadan sumber-sumber daya, baik kuantitas, kualitas serta komposisinya yang ada di daerah yang satu berbeda dengan yang ada di daerah lain. Pada Gambar 6.6.1. kurva penawaran pasar akan barng Z untuk penduduk pulau A digambar sebagai kurva SASA, sedangkan untuk penduduk pulau B sebagai kurva
SBSB.
Kalau misalnya mula-mula sama sekali tidak ada kontak antara penduduk pulau A dengan penduduk pulau B. Dalam keadaan demikian maka keadaan ekuilibrium pasar di pulau A dan dipulau B akan terbentuk dengan nilai-nilai ekuilibrium :
1, Di pulau A :
(a) harga ekuilirium barang Z = OHA/Z
(b) jumlah konsumsi barang Z = OZA/S.W.
(c) jumlah produksi barang Z = OZA/S.W.

2. Di pulau B :
(a) harga ekuilibrium barang Z = OHB/Z
(b) jumlah konsumsi barang Z = OZB/S.W.
(c) jumlah produksi barang Z = OZB/S.W.

Dari contoh di atas jelas bahwa dalam keadaan tertutup, yaitu tidak ada hubungan dagang dengan daerah lain, dalam keadaan ekuilibrium jumlah produksi selalu sama dengan jumlah konsumsi.

Sekarang kita tinjau apa yang terjadi kalau suatu ketika timbul hubungan antara penduduk A dengan penduduk B?Dengan sendirinya, dengan adanya kontak tersebut para konsumen di pulau A akan mengetahui bahwa harga barang Z di pulau B lebih rendah bila dibandingkan dengan harga barang Z di pulau tempat kediamannya sendiri, sehingga mereka akan berusaha untuk membeli barang Z dari pulau B. Sebaliknya penduduk pulau B dengan mengetahui bahwa harga satuan barang Z di pulau A lebih tinggi daripada harga satua barang Z di pulau tempat tinggal mereka, para produsennya, didorong oleh keinginan memperoleh keuntungan yang lebih tinggi, akan berusaha untuk menjual hasil produksinya berupa barang Z ke pulau A. Oleh karena keinginan para konsumen di pulau A untuk membeli barang Z dari pulau mempunyai sifat komplementer dengan keinginan para produsen di B untuk menjual hasil produsiknya ke pulau A, maka kiraya mudah difahami kalau kemudian terjadi jual beli barang Z antara penduduk pulau B dengan penduduk pulau A.

Terjadinya transkasi jual beli barang Z antara penduduk pulau A dengan penduduk pulau B yang berupa pengalirannya barang Z dari pulau B ke pulau A, mengakibatkan di satu fihak bertambahnya jumlah barang Z yang dapat dibeli oleh para konsumen di pulau A, di lain fihak di pulau B terjadi pengurangan jumlah barang Z yang dapat di beli oleh konsumen setempat. Sebagai akibat daripada kejadian ini maka harga barang Z di pulau A mempunyai tendensi untuk turun sedangkan di pulau B bertendensi untuk naik.

Akibat selanjutnya ialah bahwa sebagai akibat menurunnya harga barang Z di pulau A, maka jumlah barang Z yang oleh para konsumen di pulau A ingin dan sanggup untuk membelinya untuk dikonsumsi bertambah. Kejadian yang sebaliknya terjadi di pulau B. Sebagai akibat meningkatnya harga barang Z di pulau B, maka kesediaan para konsumen untuk membeli barang Z akan menurun.

Produsen di lain fihak memberikan reaksio yang berkebalikan dengan reaksi para konsumen. Sebagai akibat menurunnya harga barang Z di pulau A maka para produsen barang Z di pulau A akan mengurangi produksinya. Sebaliknya para produsen di pulau B; melihat harga pasar barang yang dihasilkan naik, kesediaan mereka untuk menghasilkan barang Z meningkat.

Sebagai akibat daripada bertambahnya konsumsi dan berkurangnya produksi barang Z di pulau A menyebabkan adanya kelebihan konsumsi dari produksi. Sebaliknya di pulau B di mana terdapat peningkatan produksi dan penurunan konsumsi akan terjadi kelebihan produksi di atas konsumsi. Mudahlah kiranya difahami bahwa kelebihan konsumsi barang Z di pulau A akan dipenuhi dari pengiriman kelebihan produksi pualu B.
Proses perubahan di atas, yaitu perubahan harga, perubahan kuantitas yang dihasilkan dan perubahan kuantitas yang dikonsumsi untuk barang Z, baik di pulau A maupun pulau B akan berjalan terus dan akan berhenti hanya apabila jumlah kelebihan konsumsi barang Z oleh penduduk pulau A. Dalam contoh Gambar 6.6.1. perubahan-perubahan tersebut di atas terhenti pada ketinggian harga baik di pulau A maupun di pulau B untuk barang Z per unit setinggi OH, sebab pada ketinggian harga tersebut besarnya kelebihan konsumsi barang Z di pulau A, yang dapat pula disebut supply eficiency, kekurangan penawaran atau kelebihan permintaan barang Z sebesar K sama dengan besarnya kelebihan penawaran barang Z, yang biasa juga disebut adanya excess supply atau adanya surplus barang Z di pulau B, yang besarnya sama dengan S.
Perlu kiranya di sini diketengahkan bahwa kesamaan harga akuilibrium barang Z di daerah minus barang Z pulau A dengan harga ekulibrum barang Z di daerah surplus barang Z pulau B adalah didasarkan kepada asumsi bahwa untuk memindahkan barang Z dari pulau B ke pulau A, atau sebaliknya, sama sekali tidak dibutuhkan pengeluaran biaya transpor.

Setelah kita menemukan harga ekulibrium barang Z yang baru, yaitu setinggi OHt baik di pulau A maupun di pulau B, maka kita akan dapat mengetahui pula besarnya produksi dan konsumsi barang Z tersebut baik di A maupun di B. Di pulau A, jumlah produksi ekulibrium barang Z sebesar OQA, dan jumlah konsumsi ekulibrium barang Z sejumlah OCA. Di pulau B jumlah produksi ekuiibrium barang Z seesar OQB unit dan jumlah konsumsi ekulibrium untuk barang yang sama sebanyak OCB.

Dari contoh di atas jelas kita saksikan bahwa :
1. Untuk daerah surplus berlaku : produksi dikurangi penjualan ke daerah lain sama dengan konsumsi;
2. Untuk daerah minus berlaku : produksi ditambah pembelian dari daerah lain sama
dengan konsumsi.

6.7. PENGARUH ONGKOS TRANSPOR TERHADAP PERDAGANGAN ANTAR DAERAH

Untuk menerangkan perdagangan antar-daerah di mana ada beban ongkos transpor, kita pergunakan Gambar 6.7.1. Dalam gambar tersebut, untuk singkatnya semua biaya selain harga barang bersangkutan yang timbul dari adanya transkasi perdagangan, seperti misalnya ongkos transpor, asuransi, ongkos administrasi, biaya provisi, komisi, ongkos modal dan sebagainya kita jadikan satu dan kita sebut ongkos transpor.

Dengan dimasukkanya ongkos ke dalam model, maka kebagian ekuilibrium akan tercapai apabila dipenuhi syarat-syarat :
(a) harga di daerah minus pengimpor lebih tinggi bila dibandingkan dengan harga di daerah surplus pengekspor dengan perbedaan setinggi ongkos transpor per unit, dan
(b) pada harga-harga seperti yang diungkapkan pada syarat (a) tersebut diatas, jumlah kesediaan masyarakat daerah minus untuk mengimpor barang bersangkutan sama dengan jumlah kesediaan masyarakatan daerah surplus untuk mengekspornya.

Kalau ini diterangkan pada Gambar 6.7.1., uraian singkatnya adalah sebagai erikut : Apabila t menunjukkan tingginya ongkos transpor per unit barang Z dari daerah A ke daerah B, maka nilai-nilai ekulibrium akan kita jumpai :
Daerah A :
(a) harga ekulibrium : OHA/Z,
(b) ekspor ekulibrium : BC unit barang Z1S.W.
(c) produksi ekulibrium : HAC unit barang Z/S.W.
(d) konsumsi ekulibrium : HAB unit barang ZIS.W.

Daerah B :
(a) harga ekulibrium : OHB/Z,
(b) impor ekulibrium : FG unit barang Z/S.W., di mana FG = BC,
(c) produksi ekulibrium : HBF unit barang ZJS.W.
(d) konsumsi ekulibrium : HBG unit barang Z/S.W.

THEORY PRICE OF MARKET

Perilaku Harga Pasar dan Konsumen - Bab V Teori Harga Pasar

Teori harga pasar merupakan teori ekonomi yang menerangkan perilaku harga pasar barang-barang atau jasa-jasa individual. Isi teori harga pasar intinya ialah: harga suatu barang atau jasa yang pasarnya kompetitif tinggi rendahnya ditentukan oleh permintaan pasar dan penawaran pasar. Oleh karena itu dalam bab ini berturut-turut akan diuraikan mengenai permintaan pasar, penawaran pasar, harga pasar ekuilibrium, perubahan harga pasar, dan pengaruh perubahan permintaan terhadap harga pasar ditinjau dari dimensi waktu. Di samping itu beberapa hal penting yang menyangkut teori harga pasar juga disajikan pada bagian-bagian akhir bab ini.

5.1. PERMINTAAN PASAR

Permintaan pasar suatu barang merupakan kurva gabungan atau hasil penjumlahan kurva-kurva permintaan individual akan barang tersebut yang terjangkau oleh sebuah pasar. Sebagai contoh misalnya saja: rumah-rumah tangga keluarga yang terjangkau oleh sebuah pasar mengenai pola permintaannya akan barang Z dapat dibedakan ke dalam tiga golongan, yaitu golongan pendapatan tinggi menengah dan rendah, yang masing-masing golongan tiap anggotanya berturut-turut mempunyai kurva permintaan individual yang terbentuk oleh angka-angka kolorn (1) dan (2), kolom (1) dan (3), dan kolom (1) clan (4) Tabe15.1.1, serta berturut-turut mempunyai jumlah anggota: 1000 orang, 2000 orang dan 5000 orang.

Berdasarkan data kurva-kurva permintaan individual tersebut di atas kita dapat menurunkan kurva permintaan kolektif untuk masing-masing golongan pendapatan.

Oleh karena kurva permintaan pasar merupakan kurva permintaan kolektif yang mencakup seluruh permintaan individual yang terdapat dalam suatu daerah pasar, maka pasangan kolom (1) dan kolom (8) membentuk kurva permintaan pasar barang Z, di mana kolom (8) angka-angkanya merupakan hasil penjumlahan angka-angka kolom (5), kolam (6) clan kolom (7), dan di mana:

Kolom (5) = nilai angka kol (2) x 1000
Kolom (6) = nilai angka kol (3) x 2000
Kolom (7) = nilai angka kol (4) x 5000

Pengungkapan dengan menggunakan grafik untuk kurva-kurva permintaan tersebut dimuat pada Gambar 5.1.1. Pada Gambar ini: kurva AA merupakan kurva permintaan


konsumen kolektif golongan masyarakat berpendapatan tinggi, yang dalam Tabel 5.1.1 terbentuk dari pasangan angka-angka pada kolom (1) clan kolom (5); kurva BB merupakan kurva permintaan kolektif golongan masyarakat berpendapatan menengah yang dalam tabel terbentuk dari pasangan angka-angka kolom (1) dan kolom (6); dan kurva CC merupakan kurva permintaan kolektif golongan masyarakat berpendapatan rendah yang angka-angkanya pada tabel termuat dalam bentuk pasangan kolom (1) dan (7). Akhirnya, kurva AB'C'D' merupakan kurva permintaan pasar barang Z, yang pada Tabel 5.1.1 terbentuk dari pasangan angka-angka kolom (1) dan kolom (8).

5.2. PENAWARAN PASAR

Penawaran pasar suatu barang merupakan kurva gabungan atau kurva hasil penjumlahan kurva-kurva penawaran individual akan barang tersebut yang terjangkau oleh sebuah pasar. Mengenai cara menurunkan kurva penawaran pasar sama seperti menurunkan kurva permintaan pasar dari kurva-kurva permintaan individual.

Sebagai contoh misalnya, dalam sebuah daerah pasar terhadap 300 produsen barang Z yang masing-masing memiliki kurva penawaran produsen individual dengan persamaan garis:

Zi=-10+0,1H....................................................(5.2.1) di mana
Zi =jumlah barang Z yang sebuah rumah tangga perusahaan bersedia untuk menjualnya dinyatakan dalam kilogram per satuan waktu. H = Harga per kilogram barang Z dalam rupiah.

Dari perusahaan kurva penawaran individual yang diketahui kita dapat menemukan persamaan kurva penawaran pasar barang Z. Oleh karena jumlah produsen barang Z sebanyak 300, maka kurva penawaran pasar mempunyai persamaan garis:

Z= 300 Zj = 300 (-10 + 0,1 H)
Z = -3000 + 30H................................................(5.2.2) di mana

Z = jumlah barang Z dalam kilogram yang dihasilkan oleh semua produsen barang Z.

Dalam bentuk tabel kurva-kurva penawaran Z terlihat seperti pada Tabe15.2.1. Pada tabel ini pasangan kolom (1) dan (2) membentuk kurva penawaran individual barang Z, sedangkan pasangan kolom (1) dan (3) membentuk kurva penawaran pasar barang Z.
Kurva penawaran produsen individual akan barang Z dan kurva penawaran pasar barang Z dalam bentuk grafik diungkapkan berturut-turut sebagai garis Ss dan SSz. Gambar 5.2.1. Oleh karena dari ketiga ratus rumah tangga perusahaan yang tercakup dalam daerah pasar mempunyai garis penawaran individual yang sama, maka dengan sendirinyakurva penawaran pasar SSz tentu bermula dari titik pertemuan kurva penawaran individual Ss dengan sumbu harga. Selanjutnya dapat pula dikemukakan bahwa jarak titik-titik kedudukan pada kurva penawaran pasar SSz ke sumbu harga selalu sama dengan 300 z jarak antar titik-titik kedudukan kurva penawaran individual terhadap sumbu harga. Titik kedudukan C pada garis SSz misalnya, jaraknya dari A sama dengan 300 x jarak AB

5.3. HARGA PASAR

Setelah kita mengetahui hal ihwal mengenai kurva pernuntaan pasar dan kurva penawaran pasar, kita dapat menerangkan terbentuknya harga pasar. Untuk ini kita perhatikan Gambar

5.3. 1. di mana pada tabel disampingnya dimuat nilai-nilai variabel-variabel berikut :
(1) Kemungkinan harga satuan barang Z,
(2) Jumlah barang Z yang diminta (D) persatuan waktu,
(3) Jumlah barang Z yang ditawarkan (S) persatuan waktu,
(4) Excess demand atau kelebihan permintaan (Xp), yang merupakan kelebihan jumlah yang diminta (D) dari jumlah yang ditawarkan (S),
(5) Excess supply atau kelebihan penawaran (Xs), yang merupakan kelebihan jumlah yang ditawarkan (S) dari jumlah yang diminta (D).
Dari gambar jelas bahwa titik potong antara kurva permintaan pasar (DD) dan kurva penawaran pasar (SS) terdapat pada harga per satuan barang Z setinggi Rp 400 dan jumlah yang dijual-belikan sebanyak 9 ton. Pada harga tersebut nilai XD maupun XS masing-masing sebesar nol, yang mempunyai makna bahwa pada harga Rp400/Z tidak terdapat kelebihan permintaan ataupun kelebihan penawaran. Jumlah yang para konsumen ingin dan sanggup membelinya sama dengan jumlah yang oleh para produsen ingin dan sanggup untuk menjualnya. Dalam keadaan seperti ini dengan sendirinya tidak timbul adanya gejala perubahan harga barang Z. Oleh karena itu harga Rp 400/Z dalam contoh di atas, yaitu harga setinggi titik potong antara kurva permintaan pasar dengan kurva penawaran pasar, disebut sebagai harga ekuilibrium barang Z.

Pasar barang atau jasa dikatakan berada dalam keadaan disekuilibrium apabila harga barang atau jasa tersebut serta kuantitas yang ditawarkan dan atau yang diminta mempunyai kecenderungan untuk mengalami perubahan. Keadaan ini terj adi apabil a harga yang terj adi di pasar berada di atas atau di bawah harga ekuilibrium. Pada harga Rp600/Z misalnya, jumlah yang diminta sebanyak 3 ton, yaitu sepanjang AB, sedangkan jumlah yang ditawarkan sebanyak 15 ton, yaitu sepanjang AC. Oleh karena itu terdapat kelebihan penawaran atau excess supply sebanyak 15 ton - 3 ton = 12 ton. Yang dalam grafik XS = AC - AB = BC.

Adanya kelebihan penawaran mempunyai makna bahwa barang yang dihasilkan oleh produsen sebagian, yaitu sebesar kelebihan penawaran, tidak laku terjual. Untuk menghindari kerugian yang lebih besar, maka tendensinya produsen yang menghadapi kelebihan penawaran menurunkan harga jualnya. Oleh karena konsumen bersikap rasional dan barang yang dibelinya homogen maka mereka cenderung memilih untuk membeli yang lebih murah. Ini berarti harga pasar barang Z menurun. Menurunnya harga barang Z akan diikuti oleh meningkatnya jumlah barang Z yang diminta dan menurunnya jumlah barang Z yang ditawarkan. Dengan demikian, yaitu sebagai akibat meningkatnya nilai D dan menurunnya nilai S, jumlah kelebihan penawaranakan mengecil. Meskipun mengecil, selama kelebihan penawaran masih kita jumpai, harga barang Z bertendensi terus menurun.

Sebaliknya pada harga-harga di bawah titik potong kurva permintaan pasar dengan kurva penawaran pasar, terjadi kelebihan permintaan. Pada harga Rp200/Z misalnya, yang dalam grafik adalah OF, jumlah yang ditawarkan hanya sebanyak 3 ton atau FG, sedangkan yang diminta 25 ton atau FH. Ini berarti terdapat kelebihan permintaan sebesar 22 ton atau GH. Dengan adanya kelebihan permintaan berarti ada sebagian dari keinginan untuk membeli barang Z yang tidak terpenuhi. Oleh karenanya untuk dapat memperoleh barangZ dengan jumlah seperti yang diinginkan, konsumen tendensinya mau menawar dengan harga yang lebih tinggi. Akibatnya harga pasar barang Z naik. Naiknya harga barang Z bertendensi menruangi jumlah barang Z yang diminta dan meningkatkan jumlah barang Z yang ditawarkan. Dan karenanya juga memperkecil kelebihan permintaan. Pada harga Rp 300/Z misalnya kelebihan permintaan tinggal sebanyak 11 ton. Akan tetapi meningkatnya harga barang Z disitu, sebab pada harga Rp 300/Z tersebut masih kita jumpai adanya kelebihan permintaan. Meningkatnya harga akan terhenti pada ketinggian Rp 400/Z yaitu di mana tidak ada kelebihan permintaan maupun kelebihan penawaran.

Uraian di atas dapat kita ringkas sebagai berikut :

1. Harga di atas titik potong antara kurva permintaan dengan kurva penawaran mengakibatkan adanya kelebihan penawaran. Kelebihan penawaran akan mengakibatkan harga barang tersebut turun. Penurunan harga tersebut mengakibatkan mengecilnya kelebihan penawaran. Selama masih terdapat kelebihan penawaran masih akan terjadi proses penurunan harga yang diikuti oleh menurunnya kelebihan penawaran. Penurunan harga akan terhenti setelah kelebihan penawaran mencapai nol. Keadaan ini tercapai pada harga yang ditunjukkan oleh titik potong antara kurva permintaan dengan kurva penawaran pasar.

2. Pada harga-harga di bawah titik potong antara kurva permintaan pasar dengankurva penawaran pasar juga disebut hargadisekuilibrium dan mengakibatkan adanyakelebihan permintaan. Kelebihan permintaan akan mengakibatkan meningkatnya harga. meningkatnya harga mengurangi besarnya kelebihan permintaan. Proses ini akan terus berjalan selama harga yang terjadi masih berada di bawah titik potong antara kurva permintaan dan penawaran pasar. Setelah harga mencapai ketinggian titik potong tersebut barulah proses perubahan harga terhenti.

3. Titik potong antara kurva permintaan pasar dengankurva penawaran pasar disebut titik ekuilibrium. Harga setinggi yang ditunjukkan oleh titik ekuilibrium disebut harga ekuilibrium, oleh karena harga tersebut tidak mempunyai tendensi untuk berubah. Sedangkan kuantitas yang ditunjuk oleh titik ekuilibrum disebut kuantitas ekuilibrium, mengingat bahwa dengan kurva permintaan pasar dan kurva penawaran yang ada kuantitas tersebut tidak mempunyai kecenderungan untuk berubah. Kuantitas ekuilibrium ini menunjukkan baik jumlah produksi ekuilibrium maupun juga jumlah konsumsi ekuilibrium barang bersangkutan oleh masyarakat yang terjangkau oleh pasar bersangkutan.

5.4. PERUBAHAN HARGA PASAR

Data statistik harga barang-barang dan jasa jasa menunjukkan ada yang berubah dari musim ke musim, bulan ke bulan, minggu ke minggu, hari ke hari, bahkan ada juga yang berubah dari jam ke jam. Untuk barang-barang dan jasa jasa yang pasarnya kompetitif, baik dalam bentuk persaingan sempurna maupun dalam bentuk persaingan murni,9 perubahan tersebut selalu dapat dihubungkan dengan perubahan-perubahan permintaan pasar, penawaran pagar atau kombinasi dari perubahan-perubahan tersebut. Di bawah ini diuraikan berbagai keniungkinan perubahan harga untuk barang-barang dan jasa-jasa yang permintaan dan penawaranya berbentuk normal.

Yang dimaksud dengan permintaan pasar yang mempunyai bentuk normal di sini adalah seperti telah diuraikan di depan, yaitu bentuk permintaan pasar di mana berlaku hukum permintaan, yaitu jumlah barang yang diminta berubahnya berlawanan arah dengan perubahan harga barang bersangkutan. Sedangkan yang kita maksud dengan kurva penawaran pasar yang berbentuk normal ialah kurva penawaran pasar di mana berlaku hukum penawaran, yaitu bahwa kuantitas barang yang ditawarkan berubahnya searah dengan perubahan harga barang bersangkutan.
Dengan menunjuk pada Gambar 5.4.1. berbagai macam kemungkinan berubahnya per#nintaan pasar dan atau penawaran pasar beserta pengaruhnya terhadap harga pasar ekuilibrium dan kuantitas ekuilibrium barang bersangkutan dapat diikhtisarkan sebagai berikut :

A. Permintaan Berubah, Penawaran Tetap
A.1. Permintaan Bertambah, Penawaran Tetap ;
1. Harga ekuilibrium naik. Yaitu dari H° ke H,.
2. Kuantitas ekuilibrium naik. Yaitu dari Za ke Z,.
A.2. Permintaan Berkurang, Penawaran Tetap :
1. Harga ekuilibrium turun. Yaitu dari Ho ke Hi.
2. Kuantitas ekuilibrium berkurang, yaitu dari Zo ke Zl.

B.1. Penawaran Bertambah, Permintaan Tetap :
1. Harga ekuilibrium menurun. Yaitu dari Ho ke H,.
2. Kuantitas ekuilibrium bertambah. Yaitudani Zo ke Zl.
B.2. Penawaran Berkurang, Permintaan Tetap :
1. Harga ekuilibrium naik. Yaitu dari Ho ke H,.
2. Kuantitas ekuilibrium berkurang. Yaitu dari Z° ke Z,.

C. Permintaan Berubah, Penawaran Berubah
C. 1. Permintaan Bertambah, Penawaran Bertambah :
1. Harga ekuilibrium tidak dapat dipastikan perubahannya. Dapat naik, dapat turun, dan dapat pula tidak berubah, tergantung kepada perbedaan intensitas perubahan pada permintaan dan penawaran dan juga tergantung kepada perbedaan elastisitas. Untuk kasus ini perubahan harga tidak dapat dipastikan oleh karena unsur bertambahnya permintaan bertendensi menaikkan harga, sebaliknya bertambahnya penawaran bertendensi menurunkan harga (Lihat kasus A.l.dan B.1.).
2. Kuantitas ekuilibrium bertambah. Yaitu dari Z ke Z,. Bertambahnya kuantitas ekuilibrium ini dapat dipastikan mengingat bahwa bertambahnya permintaan dan bertambahnya penawaran terhadap kuantitas ekuilibrium membawa akibat yang sama; yaitu masing-masing mempunyai akibat berupa meningkatnya kuantitas ekuilibrium (Lihat kasus A. 1. dan B. 1.).
C.2. Permintaan Berkurang, Penawaran Berkurang :
1. Harga ekuilibrium tidak dapat dipastikan perubahannya. Dapat naik, dapat turun dan dapat pula tidak berubah. Jadi sama dengan kasus C. 1. Perubahan harga tidak dapat dipastikan mengingat di satu fihak berkurangnya permintaan bertendensi menurunkan harga, {lihat kasus A.2.), sedangkan berkurangnya penawaran bertendensi meningkatkan harga (lihat kasus B.2.).

5.5. PENGARUH PERUBAHAN PERMINTAAN DITINJAU MENURUT DIMENSI WAKTU

Kita telah mengetahui bahwa bertambahnya permintaan mempunyai tendensi mengakibatkan meningkatnya harga pasar. Meningatkanya harga pasar, yang dari sudut pandangan produsen merupakan kenaikan harga jual mereka, bertendensi menimbulkan keinginan para produsen untuk menjual lebih banyak daripada sebelumnya. Akan tetap keinginan untuk meningkatkan volume penjualan mereka tersebut tidaklah mereka laksanakan seketika. Pertama-tama mereka akan mempertimbangkan apakah harga jual yang lebih tinggi daripada sebelumnya tersebut akan berlangsung lama ataukah tidak. Untuk memperoleh keyakinan tersebut pada umumnya memerlukan waktu. Kedua ialah bahwa untuk dapat menjual jumlah lebih banyak dibandingkan sebelumnya produsen harus memprodusir jumlah yang lebih banyak. Untuk menghasilkan hasil produksiyang lebih banyak, mereka perlu membeli bahan yang lebih banyak, mungkin juga perlu menambah karyawan mungkin juga perlu menambah mesin, dan seterusnya. Untuk menambah tersedianya persediaan hasil produksi, menambah tersedianya bahan-bahan baku tersebut diperlukan waktu. Apalagi menambah jumlah karyawan. Lebih-lebih lagi kalau mereka ingin menambah mesin, waktu yang diperlukan akan lebih lama lagi. Kenyataan semacam ini mendorong para pemikir ekonomi untuk membedakan tiga macam

periode pasar atau market period, yaitu :(1) periode pasar seketika atau immediate market periode, (2) periode pasar jangka pendek atau short-run market period dan (3) periode pasar jangka panjang atau long run market period. Masing-masing dari ketiga macam

periode pasar ini mempunyai harga dan kuantitas ekuilibrium. Untuk menerangkan mengenai perbedaan harga dan kuantitas ekuilibrium dari berbagai pasar tersebut kita pergunakan Gambar 5.5.1.

Periode Pasar Seketika

Periode pasar seketika adalah periode yang demikian pendeknya hingga tidak memungkinkan bagi produsen untuk mengubah jumlah hasil produksinya. Dengan demikian maka dalam periode pasar seketika kuantitas yang ditawarkan adalah tetap atau fixed, sehingga kurva penawarannya sejajar dengan sumbu harga. Pada Gambar 5.5.1. kurva penawaran pasar seketika digambarkan oleh kurva SSSS. Dengan kurva penawaran pasar seketika SSSS ini bertambahnya permintaan dari DODO ke D1D1 menghasilkan harga ekuilibrium pasar seketika OH's clan kcrantitas ekuilibrium pasar seketika OZ'S.

Periode Pasar Jangka Pendek
Kalau dalam periode pasar seketika yang biasa jugahanya disingkat periode pasar atau market periode para produsen belum sempat menambah atau mengurangi jumlah hasil produksinya sehingga supplynya fixed, maka dalam periode jangka pendek produsen sudah dapat memperbesar atau memperkecil hasil produksinya clan juga belum memungkinkan timbulnya produsen-produsen baru dalam hal ada kenaikan permintaan, atau tutupnya produsen-produsen tertentu dalam hal ada penurunan permintaan pasar. Dengan demikian bentuk kurva penawaran sudah mengikuti hukum penawaran, yaitu ke kanan naik. Pada gambar 5.5.1. kurva penawaran pasar jangka pendek digambar sebagai
garis SPeSPe. Dengan kurva penawaran pasar jangka pendek SPeSPe, ini harga ekuilibrium jangka pendek tercapai pada ketinggian H'pe dan kuantitas ekuilibrium jangka pendek tercapai pada jumlah OZ'Pe per satuan waktunya.

Periode Jangka-Panjang
Dalam periode jangka panjang produsen-produsen tidak hanya cukup waktu untuk menyesuaikan jumlah hasil produksinya dengan cara menambah atau mengurangi penggunaan faktor-faktor produksi variabel, akan tetapi juga cukup waktu untuk menambah atau mengurangi kapasitas produksinya sesuai dengan kenaikan atau penurunan permintaan pasar yang terjadi. Di samping itu periode jangka panjang juga harus cukup panjang untuk memungkinkan perusahaan-perusahaan baru rnemasuki industry atau perusahaan-perusahaan yang kurang efisien meninggalkan industri. Dengan demikian mudahlah kiranya untuk difahami bahwa pembedaan diantara ketiga periode pasar tersebut diungkapkan sebagai berikut. Periode pasar seketika adalah jangka waktu yang demikian pendek sehingga semua faktor produksi bagi semua produsen merupakan faktor produksi tetap. Periode pasar.jangka pendek merupakan jangka waktu di mana sebagian faktor produksi merupakan faktor produksi variabel sedang selebihnya merupakan faktor produksi tetap. Periode pasar jangka-panjang merupakan kurun waktu yang cukup panjang yang memungkinkan semua faktor produksi inerupakan faktor produksi variabel .

Mengingat akan hal-hal tersebut maka mudahlah difahami bahwa kurva penawaran pasar jangka panjang lebih datar daripada kurva penawaran jangka-pendek. Bahkan mungkin terjadi bahwa kurva penawaran pasarjangka panjang sejajar dengan sumbu kuantitas atau bahkan mempunyai lereng yang negatif dalam arti ke kanan menurun. Dalam contoh Gambar 5.5.1. kurva penawaran pasar jangka panjang untuk barang Z tergambar sebagai garis SpaSpa. Dengan kurva penawaran jangka panjang ini harga dan kuantitas ekuilibrium jangka panjang tercapai pada titik G, yang menghasilkan harga ekuilibrium jangka panjang OH' pa dan kuantitas ekuilibrium jangka panjang OZ' pa.
Dari Gambar 5.5.1. kalau kita bandingkan antara ketiga periode pasar tersebut, maka
sebagai akibat daripada bertambahnya permintaan pasar dari DODO ke DID, seketika harga
barang X naik dari Ho ke H's. Kemudian dengan bertambahnya penawaran sebagai akibat daripada bertambah besarnya hasil produksi para produsen dalam periode jangka pendek,harga akan menurun ke H'pe dan kuantitas ekuilibrium yang semula sebanyak OZ'S bertambah menjadi OZ' p9 . Menurunnya harga clan bertambahnya kuantitas ekuilibrium akan diteruskan oleh kenaikan hasil produksi sebagai akibat daripada tersedianya kapasitas produksi yang lebih besar yang dimiliki baik oleh produsen-produsen baru maupun produsen-produsen lama, sampai tercapainya harga OH'pa dan kuantitas OZ'pa.

Pembedaan antara ketiga macam periode pasar tersebut berlaku juga untuk kasus penurunan permintaan pasar, yang secara singkat dapat diikhtisarkan sebagai berikut. Dengan kurva-kurva penawaran pasar seketika SSSS, kurva penawaran pasar jangka pendek SpeSpe, dan kurva penawaran pasar jangka panjang SpaSpa, berkurangnya permintaan pasar dari DODO ke DZDZ akan diikuti mula-mula oleh penurunan harga barang Z dari OHO ke OH2S dengan kuantitas ekuilibrium pasar seketika tetap sebesar OZ'S. Dengan berlalunya periode pasar jangka pendek harga ekulibrium akan diteruskan naik sampai terhenti pada harga OH2pa dan kuantitas ekuilibrium akan dilanjutkan untuk menurun sampai tercapai kuantitas ekuilibrium jangka panj ang OZ2 pa' Selama permintaan pasar tidak lagi mengalami perubahan, maka harga ekuilibrium akan tetap pada ketinggian OH2pa kuantitas ekuilibrium OZ2pa .

5.6. KONSEPSI MAKSIMUM DAN KONSEPSI MINIMUM KURVA PERMINTAAN DAN KURVA PENAWARAN.

Kita sudah berkali-kali menyebut clan bahkan mempergunakan istilah-istilah kurva permintaan dan kurva penawaran. Dengan demikian dapatlah diartikan kita telah dapat menyelami arti kedua istilah tersebut dengan baik. Namun demikian kiranya ada manfaatnya bagi kita untuk mencoba memahami dengan lebih teliti mengenai kedua pengertian tersebut, agar supaya kita dapat menghindarkan diri sejauh mungkin dari penarikan kesimpulan-kesimpulan yang keliru atau menyesatkan.

Sebenarnya baik pengertian kurva permintaan mattpun kurva penawaran menyangkut suatu medan. Kurva permintaan dan kurva penawaran sebetulnya hanya merupakan batas. yang memisahkanantara medan dengan kemungkinan-kemungkinan dapat terjadi transaksi dengan medan yang tidak memiliki kemungkinan dapat terjadinya transaksi. Dalam hubungan ini dapatlah dikatakan bahwa :
(a) kurva permintaan merupakan konsepsi maksimum baik dari segi kuantitas maupun dari segi harga, dan
(b) kurva penawaran merupakan konsepsi maksimum dari segi kuantitas akan tetapi merupakan konsepsi minimum dari segi harga.

Kita perhatikan Gambar 5.6.1. Bidang yang membentang dari garis permintaan DD2 ke kiri clan ke bawah sampai mencapai sumbu harga clan sumbu kuantitas, yaitu yang dalam gambar ditandai dengan garis-garis tipis dengan arah dari kiri ke bawah ke kanan atas dan membentuk segi tiga DDZO merupakan daerah di mana dari segi konsumen atau pembeli, transaksi pembelian bisa terjadi. Daerah ini kita beri sebutan medan kemungkinan transaksi pembelian. Kurva permintaan dikatakan merupakan konsepsi maksimum dari segi kuantitas dalam arti bahwa pada harga OH, misalnya, konsumen paling banyak mau membeli barang Z sebanyak yang ditunjukkan oleh titik A pada kurva permintaan DDZ; yaitu maksimum sebanyak OZ1 Konsumen tidak akan membeli lebih daripada OZ1 meskipun bisakurang dari OZ1 Sebaliknya yang dimaksud dengan konsepsi maksimum dari segi harga ialah bahwa untuk mau membeli sebanyak OZ1 konsumen memasyaratkan harga paling tinggi setinggi OH1 lebih rendah mungkin, tetapi lebih tinggi tidak mungkin.

Selanjutnya mengenai kurva penawaran, di atas telah dikatakan bahwa kurva penawaran merupakan konsepsi maksimum dari segi kuantitas. Maksudnya ialah kuantitas-kuantitas yang ditunjukkan oleh titik-titik kedudukan ialah kuantitas-kuantitas yang ditunjukkan oleh titik-titik kedudukan yang ada pada kurva penawaran SSZ semuanya menunjukkan kuantitaskuantitas maksimum; jadi persis seperti yang berlaku untuk kurva permintaan. Dari segi harga, di lain fihak, kurva penawaran merupakan konsepsi minimum dalam arti bahwa hargaharga yang ditunjukkan oleh titik kedudukan pada kurva penawaran menunjukkan hargaharga terendah.

Jadi misalnya dalam gambar dengan kurva penawaran SSZ untuk mendorong produsen mau menghasilkan dan menjual barang Z sebanyak OS2 harga jual harus bisa ditetapkan minimum setinggi OH2.

Dari uraian di atas dapatlah dikatakan bahwa bidang yang dimulai dari kurva penawaran SSZ ke kiri dan ke atas yang pada gambar ditandai dengan garis-garis tipis dengan arah dari kiri atas ke kanan bawah, dapat kita sebut sebagai medan kemungkinan transaksi penjualan.

Selanjutnya dari gambar dapatkita saksikan bahwa medan kemungkinan transkasi penjualan bertumpang tindih dengan medan kemungkinan transaksi pembelian. Bagian yang bertumpangtindih ini dalam contoh Gambar 5.6.1. merupakan segi tiga DES dan
yang kita sebut sebagai medan kemungkinan transaksi pasar. Hanya dalam medan kemungkinan transkasi pasar inilah transkasijual beli dapat terjadi.

Dengan menyadari bahwa kurva penawaran merupakan konsepsi maksimum baik dari segi harga maupun dari segi kuantitas dan kurva penawaran merupakan konsepsi maksimum dari segi kuantitas akan tetapi minimum dari segi harga, kita dapat terhindar dari kesalahan untuk mengasumsikan dapat terjadinya transaksi-transkasi pada titik-titik kedudukan F, G dan N pada Gambar 5.6.1. Dari empat titik kedudukan F, G, M dan n, hanya titik M saja transkasi dapat terjadi, sekalipun transaksi tersebut berada dalam keadaan disekuilibrium. Transaksi jual beli antara produsen dengan konsumen tidak akan terjadi pada titik-titik kedudukan F, G, maupun N mengingat bahwa : (a) pada titik F meskipun produsen mau mengadakan transaksi akan tetapi konsumen tidak menghendakinya, karena titik F berada di luar medan kemungkinan transkasi pembelian; (b) pada titik N, sebaliknya konsumen menghendakinya, produsen tidak bersedia mengadakan transaksi penjualan; dan (c) pada titik G baik konsumen maupun produsen tidak menghendaki mengadakan jual beli sebanyak dan dengan ketinggian harga seperti ditunjukkan oleh titk G.

5.7. PASAR KOMPETITIF

Teori harga pasar, yang merupakan pokok pembicaraan bab ini dan yang isinya menyebutkan bahwa harga suatu barang ditentukan oleh permintaan pasar dan penawaran pasar akan barang bersangkutan, hanya berlaku dalam bentuk pasar tertentu, yaitu bentuk pasar persaingan yang dapat pula disebut pasar kornpetitif.

Biasanya dibedakan dua macam bentuk pasar persaingan di mana teori harga pasar seperti disebutkan di atas berlaku. Yaitu pasar persaingan murni atau pure competition dan persaingan sempurna atau perfect competition. Apabila dari enam syarat tersebut di bawah ini semua dipenuhi maka pasar dikatakan mempunyai bentuk pasar persaingan sempurna, sedangkan apabila hanya lima syarat yang pertama yang terpenuhi maka pasar dikatakan mempunyai bentuk pasar persaingarr inurni. Keenam syarat yang dimaksudkan ialah :

1. Banyak Pembeli
Yang dimaksud di sini ialah bahwa jumlah pembeli barang tersebut sedemikian banyak sehingga tidak seroang pembelipun secara individual dapat mempengaruhi harga di pasar. Dengan perkataan lain, besarnya transaksi pembelian oleh masing-masing konsumen individual adalah sangat kecil dibandingkan dengan volume transaksi keseiuruhan yang terjadi dipasar, sehinggaperubahan jumlah pembelian yang dilakukan oleh seorang pembeli individual tidak akan mengakibatkan berubahnya harga pasar.

2. Banyak Penjual
Yang dimaksud di sini juga bahwa jumlah penjual atau produsen daripada barang tersebut adalah sedemikian banyaknya sehingga tidak ada seorang produsenpun sdcara individual dapat mempengaruhi harga pasar.

3. Produknya Homogen
Homogen tidaknya suatu produk terutama ditentukan oleh pembeli. Barang yang sama dibungkus dan diberi merek dagang yang berbeda misalnya, bisa dianggap berbeda oleh pembeli; yang oleh karenanya kita kategorikan sebagai barang yang heterogen. Untuk produk yang homogen pembeli tidak dapat, atau mungkin juga tidak perlu, membedakan produk mana yang dihasilkan oleh produsen A dan produk mana yang dihasilkan oleh produsen B.

4. Bebas Keluar - Masuk "Industri".
Yang dimaksud dengan industry dan yang kita istilahkan dengan bidang usaha, dapat didefinisikan sebagai keseluruhan daripada rumah-rumah f,igga perusahaan yang menghasilkan produk yang sama.'' Yang dimaksudkan bebas memasuki atau ke luar dari industry ialah tidak adanya rintanganrintangan, baik rintangan buatan manusia ataupun rintangan alamiah yang menghalang-halangi seseorang atau suatu badan usaha untuk ikut berusaha dalam bidang usaha tersebut maupun untuk meninggalkan bidang usaha tersebut. Lazimnya suatu bidang usaha atau industry,dimasuki oleh rumah-rumah tangga perusahaan baru, pada masa-masa bidang usaha tersebut mempunyai prospek yang baik. Sebaliknya bidang usaha atau industry tersebut akan ditinggalkan oleh sementara rumah-rumah tangga perusahaan yang ada,pada masa-masa bidang usaha tersebut mempunyai prospek tidak menguntungkan.

5. Sumber-sumber Daya Mempunyai Mobilitas Yang Tinggi.
Sumber-sumber daya yang diperlukan untuk menghasilkan barang, yang pada umumnya dibedakan antara sumberdaya manusia, sumberdaya alam dan sumberdaya modal, semuanya harus mempunyai mobilitas yang tinggi dalam arti mudah bergerak untuk meninggalkan atau memasuki bidang usaha tersebut.

6. Pengetahuan sempurna daripada pelaku-pelaku ekonomi.
Yang dimaksud dengan pelaku-pelaku ekonomi di sini khususnya ialah rumah-rumah tangga keluarga sebagai pembeli danrumah-rumah tangga perusahaan sebagai penghasil dan penjual barangbarang dan j asa-jasa konsumsi. Untuk memenuhi persyaratan bentuk pasar persaingan rumah-rumah tangga keluarga harus mempunyai pengetahuan yang sempurna mengenai pasar dalam arti bahwa mereka harus tahu antara lain harga-harga barang yang sama yang dibayar oleh sesama pembeli atau yang diterima oleh setiap penjual. Syarat yang sama perlu pula dipenuhi oleh para produsen.

Kalau kita teliti ke enam syarat tersebut di atas, syarat nomor 5 sebenarnya sudah tercakup dalam syarat nomor 4. Yaitu dengan cara lain dapat diungkapkan bahwa untuk terpenuhinya syarat nomor 4 perlu dipenuhi syarat nomor 5. Apabila sumberdaya tidak cukup mobil, tidak mungkin terdapat free entry. Selanjutnya, kalau kita perhatikan syarat nomor 4, sebenarnya sedikit-banyak juga merupakan syarat untuk bisa terealisirnya syarat nomor 2. Yang kita maksud ialah bahwa syarat berupa cukup banyaknya penjual tidak dapat secara terus-menerus dipenuhi kalau tidak ada kebebasan ke luar-masuk industry. Dengan demikian kiranya mudah difahami bahwa dalam liteatur dijumpai juga sementara penulis yang tidak mengikut sertakan syarat nomor 4 dan nomor 5 sebagai syaratuntuk dapat disebutkan pasar persaingan sempurna, dan hanya menyebutkan empat syarat, yaitu :(1) banyak penjual, (2) banyak pembeli, (3) produknya homogen, dan (4) pengetahuan yang sempurna dimiliki oleh para pembeli dan penjual. Sedangkan untuk pasar persaingan murni, tiga syarat yang pertama perlu dipenuhi, sedangkan syarat ke empat tidak berlaku.

5.8. CATATAN MATEMATIKA

Untuk bab ini catatan matematika yang perlu disajikan ialah cara menemukan harga pasar ekuilibrium. Dengan diketahuinya persamaan garis kurva permintaan psar dan kurva penawaran pasar harga pasar ekuilibrium dapat kita temukan dengan menyelesaikan kedua persamaan tersebut secara simultan. Dengan cara yang sama atau dengan jalan memasukkan nilai harga ekuilibrium yang sudah kita temukan ke dalam salah satu persamaan, kita akan menemukan nilai kuantitas ekuilibrium. Kita perhatikan contoh di bawah ini.

Sebuah pasar barang Z memiliki kurva permintaan pasar dan kurva penawaran pasar dengan persamaan-persamaan fungsi :
(a) kurva permintaan pasar : Z= 2100 - 3H
(b) kurva penawaran pasar : Z=- 300 + 3H

Berdasarkan keterangan-keterangan tersebut kita dapat menemukan harga satuan barang Z ekuilibrium :

Z =2100-3H
Z =-300+3H
____________

0 =2400-6H
6H = 2400
H = 400

Dengan memasukkan nilai Z = Rp 400 ke dalam persamaan ke satu, kita menemukan :
Z = 2100 - 3(400)
= 2100 - 1200 = 900

Hasil perhitungan di atas menunjukkan bahwa kuantitas ekuilibrium, yaitu yang menunjukkan jumlah ekuilibrium Z yang dihasilkan dan yang dikonsumsi per satuan waktu, adalah sebesar 900 satuan.