Selasa, 21 Desember 2010


Bagaimana ya, caranya kita membuat anak-anak bangga terhadap Islamnya?
Sebuah SMS masuk saat saya asyik mengutak-atik blog. Hmm…muncul sebuah ide untuk menuliskannya ke dalam sebuah artikel.
Anak Islam jaman sekarang sepertinya sedang mengalami krisis terhadap agamanya sendiri. Jarang sekali, saya menemukan seorang anak menunjukkan kebanggaannya terhadap Islam sebagai agamanya. Mereka lebih suka mengikuti gaya hidup orang Barat, yang tentunya sangat jauh dari nilai-nilai Islam.
Adalah tugas kita sebagai orangtua dan pendidik untuk menumbuhkan rasa cinta dan kebanggaan tersebut pada diri anak-anak kita. Seorang anak tidak akan mungkin bisa menjadi seorang muslim yang baik jika dia tidak memiliki kecintaan terhadap Islam. Karena itulah, kita harus memanfaatkan masa emas mereka tersebut untuk mulai memberikan arahan-arahan yang baik dan benar.
Masa kanak-kanak adalah waktu yang tepat untuk mengarahkannya, karena pada masa ini, mereka masihlah seorang anak yang polos, yang tidak teracuni pikirannya oleh kecenderungan-kecenderungan yang merusak.
Bagaimana caranya?
Ajarkan sejak dalam kandungan. Sangat baik bagi ibu hamil untuk banyak-banyak memperdengarkan bacaan Al-Qur’an pada janinnya. Entah dengan mengaji sendiri, dibacakan oleh suaminya, atau bahkan melalui alat.
Sekali lagi : berikan contoh! Anak-anak adalah pengamat. Mereka mengamati, memperhatikan, dan merekam apa saja yang ada di lingkungan mereka. Jika anak melihat orangtuanya tekun dalam beribadah, berpegang teguh pada ajaran agama, ayahnya mengajarinya untuk mencintai masjid dan shalat tepat waktu, ibunya mengajarinya untuk bersedekah, maka anak-anak akan lebih mudah untuk mencintai agamanya.
Mengulang-ulang ayat-ayat Al-Qur’an, juga perkataan tentang Allah, iman, dan Islam.Anak teman saya yang baru berusia 2 tahun sudah bisa menyebutkan rukun Islam dengan urut dan benar, meski belum jelas bicaranya. Dia juga telah hafal surat-surat pendek. Subhanallah! Ini karena peran ibunya yang dengan telaten mengarahkannya. Bahkan, ibunya sempat menyeletuk, “Abdurrahman besok besar mau sekolah dimana?” anak itu menjawab dengan bangga, “KSA…Madinah…KSA..”-maksudnya adalah Universitas Islam Madinah di Saudi Arabia. Saat saya bertanya, “dimana Allah?” dia menjawab, “Alesy” maksudnya “Arsy”-singgasana Allah di langit ketujuh.
Anak-anak biasanya senang dengan gerakan-gerakan. Saya menggunakan metode bahasa isyarat untuk mengajari mereka bersyahadat dan mengungkapkan rasa cinta pada Allah. Anda pernah melihat bagaimana orang bisu berbahasa isyarat saat mengucapkan “aku cinta kamu”? Nah, metode itu saya gunakan untuk membahasakan “aku cinta Allah” dengan menunjuk ke atas saat mengucapkan kata “Allah”.
Ceritakan tentang bagaimana kehebatan-kehebatan Islam pada anak-anak. Anda bisa membacakannya buku-buku sejarah Islam, tentang kehebatan panglima-panglima besar Islam dalam menaklukkan negara-negara kafir. Tentang kepribadian Rosulullah yang sangat mulia dan berbudi pekerti. Dengan demikian, anak-anak akan memiliki figur untuk mereka contoh. Perlahan-lahan hal tersebut akan menumbuhkan kecintaan dan kebanggaannya pada Islam.
Berikan kesadaran untuk mencintai shalat. Amatlah mulia jika sejak kecil orangtua mengajak anak untuk mau ikut shalat bersamanya. Walaupun mungkin di awal-awal mereka akan sambil bermain-main, tapi, kebiasaan tersebut perlahan-lahan akan membuat mereka secara spontanitas mengerjakan shalat bila waktunya tiba.
Pilihkan sekolah yang lebih banyak mengarahkan mereka pada nilai-nilai Islam yang benar. Kita tidak boleh sembarangan memilih sekolah untuk anak. Label “Islam” sendiri sering kali ternyata tak sesuai dengan nilai-nilai Islam itu sendiri. Banyak program-program yang dibuat tak sesuai dengan syariat, kemudian tak adanya hijab antara murid laki-laki dengan murid perempuan, dsb.
Atas izin Allah, anak-anak yang terbina dengan baik sejak dini akan dengan bangga menyuarakan isi hatinya, tentang kecintaannya pada Islam. Mari kita sama-sama belajar untuk mengarahkan mereka kepada jalan yang selamat…