Sabtu, 18 Desember 2010

Women Entrepreneurship...why not??

Peluang bisnis bagi wanita, sebenarnya sangat besar. Bukan hanya untuk saat ini, tapi juga untuk saat yang akan datang. Bahkan, peluang bisnis Enterepreneur wanita itu sebenarnya lebih besar dari pada Entrepreneur laki-laki.

Wanita menjadi pengusaha? Kisah zaman dahulu mengenai wanita yang menjadi pengusaha diwarnai keterpaksaan. Mereka mendirikan usaha demi mempertahankan kelangsungan hidup keluarganya. Sebagian hanya memenuhi tujuan awalnya, sekadar sebagai penopang hidup keluarga. Sebagian lagi berkembang menjadi perusahaan ternama dan besar.
Kisah prinsip “kepepet” yang menjadi motif sebagian besar wanita pengusaha zaman dahulu. Zaman sudah berubah. Sekarang banyak wanita memilih jalan hidup sebagai pengusaha. Ada yang berawal dari karyawan, banyak pula yang sejak duduk di bangku sekolah atau kuliah yang bercita-cita menjalankan usaha sendiri. Motif menjadi pengusaha menjadi makin beragam. 
Itu karena dia punya kelebihan. Kelebihannya adalah terletak justru pada “Kewanitaannya”. Dimana, sosok Entrepreneur wanita itu lebih unggul dalam negoisasi. Itu mungkin karena keluwesan atau fleksibilitasnya. Atau istilah Candi G. Brush, professor assistant dari management police of Boston University, entrepreneur wanita lebih kooperatif, informal, dan lebih mudah membangun kesepakatan dengan pihak lain.
Sebaiknya, entrepreneur laki-laki cenderung lebih kompetitif, lebih terkesan formal, dan lebih suka berpikir sistematik.



Jika Anda mendaki gunung, apa yang paling Anda perlukan? Bekal makanan, peralatan, atau keterampilan? Tentu semuanya penting. Tapi yang paling penting: alasan Anda mendaki gunung. Jika alasan mendaki gunung hanya sekadar untuk coba-coba, sedikit saja mengalami rintangan maka perjalanan tidak akan dilanjutkan. Pendakian pun berlangsung santai, dan Anda tidak ngotot untuk sampai ke puncak dengan cepat.

Lain lagi jika alasannya adalah untuk mengukir prestasi – apakah menjadi orang yang pertama mencapai puncak gunung itu, atau waktu pendakian tercepat, maupun mengukir nama kelompok. Maka pendakian gunung akan dipersiapkan dengan matang, direncanakan dengan cermat, dan dilakukan dengan penuh semangat. Si pendaki juga tidak mudah menyerah terhadap tantangan dan rintangan yang ditemui. Masalah waktu juga dipertimbangkan dengan baik.

Mengapa seseorang mendaki gunung, inilah yang disebut sebagai motif. Pada kisah yang pertama motifnya adalah coba-coba. Pada motif yang hanya coba-coba, pendakian tidak dilakukan dengan serius, semangat alakadarnya, dan segera kembali jika menghadapi rintangan. Atau dengan kata lain motivasinya rendah. Pada kisah yang kedua, motifnya adalah untuk mengukir prestasi. Walaupun tujuannya sama, yaitu ke puncak gunung, tapi persiapannya dilakukan dengan matang, pelaksanaannya dilakukan dengan cermat dan penuh semangat, dan tidak mudah menyerah. Dengan kata lain motivasinya tergolong tinggi. Mereka adalah achiever. Motif lainnya adalah mencari rasa aman.

Jika dia menemukan tempat yang aman, dia akan berhenti. Motivasinya cukup tinggi untuk mendapatkan rasa aman. Ketika rasa aman terpenuhi, motivasinya menurun. Merekalah para survivor. Termasuk kelompok yang manakah Anda, achiever, survivor, atau yang angin-anginan? Saya yakin Anda bukan tergolong yang terakhir. Jika motif berwirausaha hanya iseng-iseng saja, pelaksanaannya kurang serius dan Anda mudah menyerah jika  mendapat  rintangan. Dalam kehidupan sehari-hari, banyak kita temui wanita wirausahawan yang tergolong survivor. Para ibu yang harus menghidupi keluarganya berwirausaha untuk survive. Namun di tengah segala keterbatasannya, ia dapat berpikir maju dan berubah menjadi achiever. Achievement adalah bagaimana agar apa yang dilakukan hari ini lebih dari kemarin atau lebih baik dari orang lain. Jika kita mengharuskan diri kita untuk lebih baik dari kemarin, berarti kita berpacu dengan diri kita sendiri. Sementara jika kita ingin lebih baik dari yang lain berarti kita berkompetisi dengan orang lain. Kompetisi merupakan salah satu pemicu kemajuan. Melalui kompetisi orang berlomba untuk mencapai sesuatu yang lebih baik, agar dapat mengungguli lainnya. Dorongan untuk berkompetisi (secara sehat dan konstruktif) sangat dibutuhkan oleh dunia bisnis, karena dunia bisnis adalah dunia persaingan. 

Hanya saja, sayangnya saya melihat entrepreneur wanita umumnya dikenal terlalu hati-hati dalam berbisnis, dan bahkan terlalu takut untuk mengambil risiko. Sehingga, jika kelemahan itu tidak berhasil kelola dengan baik, maka jelas akan mengakibatkan jumlah entrepreneur wanita yang terjun ke dunia usaha saat sekarang ini, relative kecil.
Contohnya, anggota IWAPI (Ikatan Wanita Penguasaha Indonesia) yang jumlahnya relative lebih sedikit daripada kalau kita bandingkan dengan anggota KADIN atau HIPMI atau organisasi serupa yang “laki-laki”. Mungkin hal itu bisa saja karena kebanyakan bisnis yang dimiliki entrepreneur wanita, lebih sedikit daripada jika mereka bekerja pada suatu peusahaan. Seperti yang diungkapkan oleh sebuah riset dari institute for women’s policy research di Washington DC.
Sementara, Marger Lovero, direktur dari Entrepreneurial Center at Manattanvile College mengatakan, bahwa entrepreneur wanita itu sulit berkembang maju, juga karena mereka cenderung mempertahankan bisnis kecilnya. Sebab, baginya menjadi besar, tapi lebih pada keinginan untuk mencoba men-support dirinya sendiri atau mandiri, membawa keseimbangan dan fleksibilitas dalam mengatur waktu kesehariannya. Tapi kalau dia bekerja di perusahaan lain, fleksibilitas itu tidak didapatkannya.
Dalam konteks inilah, barangkali ada baiknya sekarang ini bisnis di kalangan entrepreneur wanita, perlu untuk terus didorong pada kegiatan bisnis industri rumah tangga, yang lebih memungkinkan bisnis atau jiwa entrepreneur bisa terus berkembang. Oleh karena itulah, saya kira meski keberanian wanita di dalam menekuni dunia usaha tidak sebesar keberanian yang dilakukan entrepreneur laki-laki, namaun jika entrepreneur wanita ingin berkembang bisnisnya, dia semestinya berani mengambil risiko, dan lebih berani membentuk jaringan bisnis yang lebih luas lagi.

Resep Entrepreneurship

Tentu saja entrepreneurship bukan sekadar semangat. Berikut adalah 9 resep yang perlu dipegang oleh para wanita entrepreneur yang dikutip dari buku Leadpreneurship: Pendekatan Strategic Management dalam Kewirausahaan.

1. Positive Mindset ab out Business
Untuk menjadi seorang wirausahawan yang sukses, seorang wanita harus memiliki mindset yang positif tentang bisnis. Ia harus menanamkan keyakinan bahwa aktivitas bisnis merupakan pendorong utama kemajuan peradaban serta peningkatan kualitas hidup manusia.

2. Business is A Noble Professi on
Tanamkanlah keyakinan bahwa profesi wirausahawan bagi wanita adalah sama terhormatnya dengan profesi-profesi lainnya, yang juga membanggakan.

3. Impr ove Sensitivit On Opp ort unities

Salah satu karakteristik dari seorang wirausahawan yang sukses adalah kemampuannya mengidentifikasi peluang bisnis dan kemudian memanfaatkannya secara optimal. Kemampuan inilah yang perlu terus diasah sehingga seorang wirausahawan bisa dengan segera melihat hal-hal yang belum terlihat orang lain.

4. Balance Coordinati on on
Optimistic View and Expl ore the Challenges That Have To Be Made Tidak jarang wirausahawan merasa begitu optimistis terhadap sebuah peluang. Sayangnya optimisme ini tidak jarang cenderung berlebihan. Sikap optimistis bagi seorang wirausahawan memang sangat diperlukan, namun segala realitas serta tantangan yang bakal dihadapi tetaplah harus dipertimbangkan. Banyak wirausahawan yang gagal karena terlalu optimistis sehingga kurang cermat dalam menghitung peluang.

5. Be Realistic with Regard to Project Magnit ude and Available Res ources
Masalah sumber daya serta besarnya proyek harus mendapat perhatian. Dalam menjalankan aktivitasnya, hal terpenting bagi seorang wirausahawan adalah memperoleh hasil yang optimal dengan sumber daya yang tersedia.

6. Start with the Least Possible
Fixed Expendit ures Salah satu prinsip dalam merintis usaha adalah memulai dengan pengeluaran tetap (fixed expenditure) kecil.

7. Find People Who Can Work and Thin k for the Organization
“Manusia“ adalah modal utama dalam merintis usaha. Menemukan orang yang mau dan mampu bekerja serta memiliki komitmen terhadap organisasi, merupakan masalah yang paling krusial, karena faktor ini akan menentukan masa depan usaha. Jiwa kepemimpinan berperan sangat penting.

8. Strive for a Health y Cash
Flow Management Kesehatan finansial perusahaan harus mendapat prioritas utama untuk menjaga eksistensi usaha. Manajemen arus kas yang sehat sangat penting bagi keberlangsungan perusahaan.

9. Expand Busines Scale Acc ording to the Realistic Devel opments
Sebelum melakukan ekspansi, harus dilakukan analisis seputar perkembangan lingkungan internal dan eksternal perusahaan. Hanya berbekal keyakinan semata tidaklah cukup tanpa kalkulasi yang cermat.

sumber: berbagai blog.